Ketegangan perdagangan global kembali meningkat setelah Amerika Serikat mengumumkan kebijakan tarif baru yang kemudian dibalas oleh China dan Uni Eropa. Eskalasi ini memicu kekhawatiran potensi perang dagang global yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi dunia serta sentimen di pasar keuangan.
Dalam Market Outlook terbaru yang dirilis platform aset kripto FLOQ, dinamika geopolitik dan perubahan kondisi makroekonomi global disebut menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan berbagai kelas aset, termasuk saham dan aset kripto.
Dari Amerika Serikat, data ekonomi terbaru menunjukkan sinyal pelemahan. Klaim pengangguran dilaporkan meningkat, sementara indeks harga produsen (PPI) mengalami penurunan. Kondisi ini turut meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve berpotensi mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneter dalam beberapa bulan ke depan. Secara historis, situasi tersebut kerap memberi sentimen positif bagi aset berisiko seperti saham emerging markets dan kripto.
Di sisi lain, meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah jalur perdagangan Selat Hormuz kembali dibuka turut menekan harga minyak dunia. Harga minyak WTI dilaporkan turun ke bawah US$100 per barel, yang dinilai dapat mengurangi tekanan inflasi energi secara global.
Di tengah dinamika tersebut, Bitcoin disebut menunjukkan ketahanan dengan diperdagangkan di kisaran US$71.000–US$72.000, setelah sebelumnya menguji area penting di sekitar US$69.000.
Founder dan CEO FLOQ, Yudhono Rawis, menilai kondisi pasar saat ini mencerminkan perubahan cara investor memandang aset kripto dalam konteks ekonomi global. “Ketika ketidakpastian geopolitik dan ekonomi meningkat, investor secara alami mencari alternatif di luar sistem keuangan tradisional. Bitcoin semakin dilihat bukan hanya sebagai aset spekulatif, tetapi sebagai aset digital strategis yang dapat berperan dalam diversifikasi portofolio global,” ujar Yudhono.
Ia menambahkan, dinamika pasar saat ini menunjukkan kripto semakin berperan dalam percakapan ekonomi global, terutama dalam konteks adopsi institusional dan potensi penggunaannya dalam transaksi lintas negara.
Sementara itu di dalam negeri, Yudhono menyebut pasar saham Indonesia menunjukkan pemulihan signifikan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melonjak 4,42% dalam satu hari, didukung net buy investor asing sekitar Rp632 miliar, dengan sektor energi dan perbankan menjadi pendorong utama penguatan.
Dari sisi fundamental, kondisi makro Indonesia dinilai relatif stabil. Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa nasional berada di kisaran US$151,9 miliar, setara sekitar 6,1 bulan impor, dan disebut berada jauh di atas standar internasional.
Menurut analisis FLOQ, sejumlah faktor global yang berpotensi memengaruhi pasar Indonesia dalam waktu dekat meliputi eskalasi perang dagang global yang dapat mengganggu rantai pasok dunia, pelemahan ekonomi Amerika Serikat yang dapat mendorong arus modal ke emerging markets, serta stabilitas harga minyak yang berpotensi membantu menjaga inflasi domestik.
Dalam menghadapi pasar yang volatil, FLOQ menekankan pentingnya pendekatan investasi yang disiplin. Untuk investor pemula, strategi Dollar Cost Averaging (DCA) pada aset utama seperti Bitcoin dan Ethereum dinilai tetap relevan. Sementara bagi trader, area US$69.000–US$70.000 dipandang sebagai zona penting untuk akumulasi, dengan potensi pergerakan lanjutan apabila Bitcoin mampu menembus resistance di sekitar US$75.000.
FLOQ juga menegaskan bahwa informasi dalam Market Outlook disusun untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan saran atau rekomendasi investasi. Investor disarankan melakukan riset mandiri serta mempertimbangkan profil risiko masing-masing sebelum mengambil keputusan.