Ketahanan ekonomi Indonesia disebut tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Pemerintah menilai kondisi ini ditopang oleh kuatnya permintaan domestik, stabilitas sektor eksternal, serta kebijakan fiskal dan moneter yang disiplin dan terkoordinasi.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan, sejumlah lembaga internasional seperti International Monetary Fund (IMF), Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), dan World Bank memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada 2025–2026 berada di kisaran 2,6% hingga 3,3%.
Di tengah proyeksi tersebut, Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11% pada 2025 dan disebut termasuk yang tertinggi di antara negara anggota G20. Airlangga mengatakan, pertumbuhan itu ditopang konsumsi rumah tangga yang berkontribusi 54% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dengan Mandiri Spending Index berada pada level 360,7. Pernyataan tersebut disampaikan di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Dari sisi ketahanan pangan, produksi beras nasional mencapai hampir 34,7 juta ton, dengan cadangan beras Perum Bulog mendekati 4,6 juta ton. Pada sektor energi, disebut terjadi surplus 4,84 juta kiloliter melalui implementasi program biodiesel 50% (B50).
Airlangga juga menyampaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini di atas 5,3%. Untuk kuartal I-2026, pemerintah menyatakan optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di sekitar 5,5%.
Memasuki triwulan II-2026, sejumlah indikator makroekonomi disebut menunjukkan kondisi yang solid, antara lain inflasi yang terkendali, surplus neraca perdagangan selama 70 bulan berturut-turut, serta kepercayaan konsumen yang tetap tinggi. Aktivitas manufaktur berada dalam fase ekspansi dengan indeks 50,1, sementara cadangan devisa tercatat mencapai 148,2 miliar dolar AS atau setara Rp 2.533,22 triliun.
Dari sisi eksternal, ekspor komoditas unggulan seperti batubara, karet, nikel, tembaga, dan aluminium disebut mencapai 47 miliar dolar AS atau sekitar Rp 803,7 triliun.
Pemerintah juga menegaskan peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai bantalan ekonomi melalui bantuan pangan, subsidi energi, diskon transportasi, serta kompensasi senilai Rp 11,92 triliun. Airlangga menyebut defisit APBN per Maret 2026 terjaga pada level 0,93% terhadap PDB.
Indikator sosial turut disebut membaik, dengan tingkat kemiskinan turun menjadi 8,25%, tingkat pengangguran 4,7%, dan rasio gini 0,363. Realisasi investasi sepanjang 2025 dilaporkan menyerap 2,71 juta tenaga kerja baru.
Untuk mendorong iklim investasi, pemerintah mempercepat reformasi struktural melalui pembentukan Satuan Tugas Percepatan dan Penyelesaian Permasalahan Investasi (Satgas P2SP) serta implementasi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2025. Kebijakan ini diarahkan pada penyederhanaan perizinan berbasis Service Level Agreement (SLA) serta Online Single Submission risk based approach (OSS-RBA).
Airlangga juga menyatakan hubungan perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) tetap strategis sebagai pasar ekspor utama produk manufaktur Indonesia. Menurutnya, kemajuan negosiasi perdagangan bilateral Indonesia-AS menghasilkan penurunan tarif dari 32% menjadi sekitar 19% untuk sejumlah komoditas, serta peluang tarif 0% bagi 1.819 produk terpilih. Ia menilai hal ini berpotensi memperkuat industri padat karya dengan serapan tenaga kerja sekitar 5 juta orang.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menegaskan stabilitas fiskal tetap terjaga di tengah risiko global. Ia menyebut fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dan resilien, dengan inflasi terkendali dan defisit fiskal tetap di bawah batas yang ditetapkan undang-undang. Juda menyampaikan, pada 2025 defisit tercatat sekitar 2,92% terhadap PDB, sementara rasio utang berada di kisaran 40%, jauh di bawah batas aman 60%.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics Indonesia Mohammad Faisal menilai ketahanan ekonomi Indonesia tetap terjaga berkat kombinasi kebijakan fiskal yang adaptif dan kinerja ekspor komoditas. Ia menilai struktur ekonomi Indonesia relatif resilien meski menghadapi risiko sebagai negara pengimpor minyak dan gas (migas), karena diimbangi posisi Indonesia sebagai eksportir komoditas seperti batubara dan kelapa sawit yang tengah mengalami kenaikan harga.
Faisal menambahkan, ketika harga global meningkat tetapi tidak diikuti kenaikan harga BBM bersubsidi, inflasi dapat dijaga dan daya beli masyarakat tetap terlindungi. Ia juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan fiskal agar defisit tetap di bawah 3% terhadap PDB, melalui efisiensi, realokasi anggaran, serta optimalisasi penerimaan negara.
Ke depan, percepatan transisi energi dan penguatan ketahanan pangan dinilai menjadi langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.