Sejumlah perkembangan ekonomi global pada 17 April 2026 menyoroti meningkatnya tekanan inflasi di Jepang, ambisi Korea Selatan membangun ekosistem kecerdasan buatan (AI), hingga respons negara-negara G7 terhadap dampak konflik di Timur Tengah. Di pasar keuangan dan komoditas, dolar AS melemah untuk minggu kedua beruntun, sementara harga aluminium menembus rekor tertinggi akibat gangguan pasokan.
Di Jepang, survei yang dilakukan pada 7–14 April menunjukkan sekitar 65% pakar memperkirakan Bank Sentral Jepang (BoJ) akan menaikkan suku bunga acuan menjadi 1% pada akhir Juni 2026. Perkiraan itu muncul di tengah inflasi yang tetap berada di atas target bank sentral, sehingga mendorong tekanan agar kebijakan moneter diperketat.
Tekanan tersebut juga dipengaruhi pelemahan yen, yang disebut telah terdepresiasi sekitar 2% terhadap dolar AS sejak konflik di Timur Tengah meletus. Kondisi itu dinilai dapat mendorong BoJ untuk berpotensi menaikkan biaya pinjaman hingga 1,5% pada 2027. Meski demikian, proyeksi pertumbuhan kuartal kedua diperkirakan turun tajam menjadi 0,4%, namun para pembuat kebijakan disebut memprioritaskan pengendalian harga agar suku bunga tetap berada di bawah level netral saat ini, yaitu 0,75%.
Sementara itu, Korea Selatan menyatakan ambisi untuk menjadi pusat AI global. Menteri Keuangan Koo Yun Cheol menegaskan tekad pemerintah menarik organisasi internasional, termasuk Bank Dunia (WB) dan Bank Pembangunan Asia (ADB), agar mendirikan pusat AI di Korea Selatan.
Sejalan dengan itu, Korea Selatan menargetkan fokus pada bidang yang dianggap inti, seperti chip memori berbandwidth tinggi, chip sensor, serta model bahasa AI skala kecil. Pengembangan tersebut diarahkan untuk aplikasi di sektor pembuatan kapal dan otomotif, dengan tujuan mempertahankan keunggulan kompetitif atas Amerika Serikat. Pemerintah juga berharap transisi menuju ekonomi berbasis AI dapat meningkatkan efisiensi kerja dan membantu menjawab tantangan perlambatan pertumbuhan, termasuk dalam agenda G20.
Dari sisi geopolitik dan stabilitas ekonomi global, para menteri keuangan dan gubernur bank sentral G7 menyatakan siap menerapkan langkah-langkah intervensi mendesak untuk membatasi kerugian ekonomi akibat konflik yang berlangsung di Timur Tengah. Situasi kian menekan setelah adanya blokade di Selat Hormuz yang mendorong lonjakan harga energi.
G7 disebut mempertimbangkan opsi regulasi pasar, termasuk pelepasan minyak dari cadangan strategis, serupa dengan model yang diterapkan oleh International Energy Agency (IEA) beberapa minggu sebelumnya. Kelompok tersebut menyatakan akan memantau keseimbangan risiko secara cermat untuk menentukan tindakan pada pertemuan berikutnya di Paris, sembari mengupayakan solusi maritim yang berkelanjutan setelah gencatan senjata.
Di pasar valuta asing, dolar AS tercatat jatuh untuk minggu kedua berturut-turut. Perkembangan terkait Iran disebut membantu banyak mata uang mengimbangi kerugian, dengan dolar Australia bertahan dekat level tertinggi empat tahun di 0,7163 USD/AUD. Pada saat yang sama, stabilisasi pasar tenaga kerja AS—ditandai penurunan tajam klaim pengangguran—memberi ruang bagi Federal Reserve (Fed) untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah sambil terus memantau perkembangan inflasi.
Di pasar komoditas, harga aluminium dunia mencapai rekor tertinggi seiring kekurangan pasokan. Harga aluminium dilaporkan melonjak 15% sejak akhir Februari 2026, mendorong indeks logam LMEX ke level tertinggi sepanjang masa, di tengah gangguan pasokan yang parah di Timur Tengah.
JPMorgan memperingatkan industri aluminium menghadapi “lubang hitam” kekurangan pasokan setelah pabrik-pabrik utama di Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain mengalami kerusakan, ditambah blokade Selat Hormuz yang menghentikan pengiriman. Meski prospek negosiasi perdamaian disebut mendukung harga tembaga dan nikel, pasar logam non-ferrous secara umum masih berada di bawah tekanan akibat meningkatnya biaya energi dan kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi global.