BERITA TERKINI
Ekonom Soroti Diplomasi Selat Hormuz, Subsidi, dan Tekanan Pasar dalam Ketahanan Ekonomi

Ekonom Soroti Diplomasi Selat Hormuz, Subsidi, dan Tekanan Pasar dalam Ketahanan Ekonomi

Stabilitas ekonomi Indonesia dinilai berada di bawah tekanan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama terkait akses di Selat Hormuz. Ekonom sekaligus pengajar The Indonesia Capital Market Institute, Adriyan Sayed, menilai kelancaran pasokan energi Indonesia sangat dipengaruhi posisi diplomasi pemerintah terhadap Iran.

Adriyan menyebut perlunya dialog yang lebih konstruktif agar hubungan dengan Iran dapat lebih dipercaya, sehingga kapal-kapal Indonesia bisa melintas tanpa hambatan. Menurutnya, jika hal itu terwujud, dampaknya akan membantu menjaga kondisi ekonomi domestik.

Ia juga menilai situasi menjadi lebih rumit karena Indonesia dianggap terlalu dekat dengan Amerika Serikat melalui kerja sama Board Of Peace (BOP). Adriyan menyebut Iran dapat merasa keberatan apabila Indonesia dipandang menjadi rekan negara yang mendukung agresi di Palestina.

Dalam pandangannya, Indonesia sebaiknya mempertimbangkan untuk sementara tidak bergabung dengan BOP. Ia berargumen, langkah tersebut dapat disampaikan melalui bahasa diplomasi agar Iran melihat adanya niat baik dari Indonesia.

Dari sisi dalam negeri, Adriyan menyoroti pelemahan daya beli masyarakat pada awal 2026. Ia menyebut meski konsumsi biasanya meningkat menjelang hari raya, data menunjukkan penurunan penjualan ritel yang cukup tajam.

Menurut Adriyan, kebijakan fiskal pemerintah melalui subsidi akan berperan besar dalam menjaga ketahanan konsumsi rumah tangga. Ia menilai skema subsidi langsung berupa bantuan tunai (BLT) dapat membantu karena masyarakat dinilai lebih mengetahui kebutuhan mereka dibanding bantuan dalam bentuk makanan.

Tekanan juga dirasakan di pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat turun ke level 7.000 dipengaruhi sentimen global serta isu keterbukaan informasi free float yang diminta MSCI. Namun, Adriyan memandang pelemahan harga saham dapat menjadi peluang bagi investor domestik untuk masuk pada emiten dengan fundamental kuat.

Ia menilai penurunan tersebut terutama dipicu faktor eksternal, sehingga investor tidak perlu terlalu khawatir. Adriyan menggambarkan kondisi itu sebagai momentum untuk membeli saham dengan harga lebih rendah.

Adriyan juga mengingatkan potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) massal apabila harga bahan baku impor terus meningkat akibat depresiasi rupiah dan naiknya biaya logistik global. Menurutnya, jika konflik Israel dan Iran tidak diatasi, tekanan terhadap perusahaan dapat berujung pada efisiensi, termasuk PHK.

Untuk solusi jangka panjang, ia mendorong percepatan kemandirian energi melalui hilirisasi batu bara menjadi gas cair (LNG) serta transisi ke kendaraan listrik. Meski demikian, Adriyan menekankan kemandirian sumber daya alam perlu dibarengi stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS guna menjaga kepercayaan investor asing.