Jakarta — Petinggi OpenAI menegaskan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tidak serta-merta mengambil alih seluruh jenis pekerjaan. Menurutnya, AI lebih mungkin mengubah cara manusia bekerja secara bertahap.
Chief Economist OpenAI Aaron “Ronnie” Chatterji mengatakan, pertanyaan yang paling sering ia terima dari mahasiswa universitas di Indonesia saat ini berkaitan dengan dampak AI terhadap pekerjaan. Ia menyebut sejumlah studi memperkirakan satu dari lima pekerja berada dalam pekerjaan yang akan terdampak AI, sementara studi lain menyebut angkanya bisa mencapai dua dari tiga.
Ronnie menekankan, pengalaman sejarah perkembangan teknologi menunjukkan pekerjaan tidak bersifat statis. Pekerjaan yang dilakukan saat ini tidak selalu sama dengan yang dikerjakan beberapa tahun lalu, bahkan banyak jenis pekerjaan yang kini ada belum dikenal satu dekade sebelumnya.
Karena itu, ia menilai anggapan bahwa teknologi AI akan menggantikan keseluruhan pekerjaan yang ada saat ini merupakan penyederhanaan. Ia menyebut, kemungkinan yang lebih besar adalah pekerjaan seseorang diambil alih oleh manusia lain yang memahami cara menggunakan AI, bukan oleh AI itu sendiri.
Ronnie menambahkan, hal tersebut menjadi alasan pentingnya generasi muda mempelajari keterampilan baru serta memanfaatkan AI untuk mendukung pekerjaan mereka.

