Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menegaskan Teheran tidak akan melakukan negosiasi dalam bentuk apa pun dengan Amerika Serikat (AS) untuk meredam konflik di Timur Tengah.
Pernyataan itu disampaikan menanggapi kesiapan Pemerintah Indonesia untuk memfasilitasi dialog guna meredakan ketegangan Iran dan AS, menyusul serangan gabungan AS-Israel ke Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026.
“Kami ingin menyampaikan bahwa kami tidak ada negosiasi dalam bentuk apa pun dengan kaum-kaum musuh dari kami,” kata Boroujerdi saat ditemui awak media di kediamannya di Jakarta, Kamis, 5 Maret 2026.
Boroujerdi mengatakan Iran telah kehilangan kepercayaan terhadap proses diplomasi setelah sejumlah pengalaman negosiasi sebelumnya dinilai tidak menghasilkan jaminan keamanan, bahkan diikuti serangan terhadap negaranya. Ia menyebut Iran telah beberapa kali berdialog dengan Washington, namun proses tersebut tidak memberikan kepastian bagi Teheran.
Salah satu contoh yang disampaikan Boroujerdi adalah kesepakatan nuklir internasional Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Perjanjian itu sebelumnya dicapai antara Iran dan sejumlah negara besar untuk membatasi program nuklir Teheran dengan imbalan pelonggaran sanksi internasional. Namun, ia menilai kesepakatan tersebut tidak berjalan sesuai komitmen setelah AS keluar secara sepihak pada masa pemerintahan Donald Trump.
“Yang pertama adalah negosiasi untuk nuklir Iran. Kesepakatan yang bernama JCPOA telah dicapai, tetapi Amerika Serikat melanggar kesepakatan tersebut dan keluar secara sepihak,” ujarnya.
Selain itu, Boroujerdi menyatakan Iran telah melakukan lima kali negosiasi dengan pihak yang sama, namun dalam proses itu negaranya justru mengalami serangan. Ia juga menyinggung dua putaran negosiasi terbaru yang, menurutnya, kembali diiringi eskalasi militer.
Berdasarkan pengalaman tersebut, Iran menilai tidak ada jaminan bahwa proses diplomasi dapat berlangsung hingga menghasilkan kesepakatan yang dihormati semua pihak. “Untuk kali ini kami tidak akan menerima bentuk negosiasi apa pun dan kami akan mengejar perang ini sampai kemenangan Iran,” kata Boroujerdi.
Di sisi lain, Pemerintah Tiongkok sebelumnya menyatakan akan mengirim utusan khusus ke Timur Tengah untuk terlibat dalam upaya mediasi dengan negara-negara di kawasan. Pernyataan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Wang Yi dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Faisal bin Farhan Al Saud pada 4 Maret 2026, sebagaimana dilaporkan kantor berita pemerintah Xinhua News Agency.

