BERITA TERKINI
DPR Minta Pemerintah Perkuat Fondasi Ekonomi di Tengah Ketidakpastian Global

DPR Minta Pemerintah Perkuat Fondasi Ekonomi di Tengah Ketidakpastian Global

Anggota Komisi XI DPR RI Puteri Komarudin meminta pemerintah terus mewaspadai ketidakpastian global yang dinilai dapat memengaruhi kinerja perdagangan dan sektor keuangan Indonesia. Ia menilai, penguatan fondasi ekonomi perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

“Pemerintah tetap perlu waspada seiring ketidakpastian global yang masih tinggi, yang dapat berpengaruh pada kinerja perdagangan hingga keuangan. Dapat muncul sewaktu-waktu, oleh karena itu, fondasi ekonomi yang terlihat solid hari ini perlu terus diperkuat,” kata Puteri dalam keterangan pers di Jakarta, dikutip Minggu (3/5/2026).

Di tengah dinamika global, Puteri mengapresiasi kinerja ekonomi Indonesia yang dinilai tetap tumbuh positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 mencapai 5,11 persen.

Puteri menyebut capaian tersebut termasuk yang tertinggi di antara negara-negara G20. Menurutnya, pertumbuhan itu ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh 4,92 persen dan investasi yang meningkat 5,09 persen.

Selain itu, ia menyampaikan ekspor Indonesia pada 2025 tercatat tumbuh 7,03 persen. Ia juga menyoroti sejumlah indikator lain, seperti inflasi yang terkendali, cadangan devisa yang memadai, serta neraca perdagangan yang surplus.

Puteri turut menyinggung produksi beras nasional pada 2025 yang disebut mencapai 34,71 juta ton, atau meningkat 13,36 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ia menilai peningkatan produksi tersebut berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat, khususnya petani.

Di sisi lain, kondisi pasar saham domestik dilaporkan melemah dalam sepekan terakhir. Laporan mingguan Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, selama periode 27–30 April 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 2,42 persen.

Sebelum libur May Day, IHSG ditutup di level 6.956,80, lebih rendah dibandingkan penutupan akhir pekan sebelumnya di level 7.129. Kapitalisasi pasar juga turun 2,78 persen dari Rp12.736 triliun menjadi Rp12.382 triliun.

BEI mencatat rata-rata nilai transaksi selama sepekan turun 6,81 persen menjadi Rp18,27 triliun, dibandingkan pekan sebelumnya sebesar Rp19,61 triliun. Rata-rata frekuensi transaksi harian turun 15,02 persen menjadi 2,34 juta kali transaksi dari 2,75 juta kali transaksi pada pekan sebelumnya.

Volume transaksi harian juga turun 17,32 persen menjadi 37,11 miliar lembar saham, dari 44,88 miliar lembar saham pada pekan sebelumnya. Dalam periode sepekan, terjadi aliran keluar modal asing dari pasar saham dengan nilai jual bersih Rp1,49 triliun, sehingga sepanjang 2026 nilai jual bersih tercatat mencapai Rp49,87 triliun.

BEI menyatakan pergerakan pasar saham domestik pada pekan tersebut turut dipengaruhi dinamika pasar saham global. Pelaku pasar disebut masih bersikap hati-hati karena sentimen negatif, terutama yang berasal dari faktor eksternal.