BANDUNG – Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, Jawa Barat didorong untuk mempercepat pembangunan ekonominya. Dorongan itu mengemuka dalam forum sektor jasa keuangan yang menghadirkan Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat dan Sekretaris Daerah Jawa Barat sebagai pembicara utama.
Kepala OJK Jawa Barat Darwisman menyampaikan, dinamika global saat ini ditandai pergeseran kekuatan ekonomi dunia menuju sistem multipolar. Menurut dia, perubahan tersebut menghadirkan peluang sekaligus risiko yang perlu diantisipasi.
Ia menyoroti sejumlah faktor yang memicu ketidakpastian global, mulai dari konflik geopolitik di berbagai kawasan hingga meningkatnya rivalitas perdagangan dan teknologi antarnegara besar. Situasi itu, kata dia, berdampak pada fluktuasi pasar keuangan global, termasuk tekanan terhadap nilai tukar dan arus investasi.
“Ketidakpastian global meningkat tajam, bahkan indeksnya mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir,” ujar Darwisman, Selasa (14/04/2026).
Meski demikian, Darwisman menilai fundamental ekonomi Indonesia, termasuk Jawa Barat, masih tergolong kuat. Konsumsi rumah tangga disebut tetap menjadi penopang utama pertumbuhan, dengan kontribusi sekitar 65 persen terhadap struktur ekonomi daerah.
Ia menambahkan, sektor industri pengolahan masih mendominasi lapangan usaha di Jawa Barat, disusul sektor perdagangan, konstruksi, dan pertanian. Darwisman juga mencatat pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang cukup tinggi sebagai salah satu pendorong laju ekonomi.
Namun, ia mengingatkan adanya potensi tekanan inflasi yang perlu diwaspadai. Jika tidak terkendali, inflasi dinilai dapat menggerus daya beli masyarakat.
Dari sisi sektor keuangan, ia menyebut kinerja nasional masih menunjukkan tren positif. Kredit perbankan tumbuh di kisaran 9 persen, sementara berbagai lembaga pembiayaan juga mencatat pertumbuhan. Ia turut menyoroti lonjakan pinjaman daring (peer-to-peer lending) yang meningkat signifikan.
“Ini menunjukkan perubahan perilaku masyarakat yang semakin mengandalkan kemudahan layanan digital,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman menekankan pentingnya peran sektor perbankan dalam mendorong percepatan pembangunan daerah. Menurut dia, potensi ekonomi Jawa Barat masih besar dan membutuhkan dukungan dari seluruh pelaku jasa keuangan.
Herman menilai forum yang digelar tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial dan harus diikuti tindak lanjut yang berdampak bagi masyarakat. “Pertemuan ini harus menghasilkan langkah nyata. Kalau tidak ada progres, maka forum ini hanya membuang waktu,” ujarnya.
Ia juga mengajak perbankan agar tidak semata berorientasi pada keuntungan bisnis, tetapi turut mengambil peran dalam pembangunan daerah. Herman menyebut kontribusi sektor keuangan penting untuk menekan angka kemiskinan dan pengangguran di Jawa Barat.
Lebih lanjut, ia menekankan perlunya pendekatan kolaboratif antara pemerintah dan sektor keuangan. Menurutnya, pembangunan tidak bisa dijalankan secara parsial, melainkan harus terintegrasi dalam satu sistem yang saling mendukung.
“Ini bukan hanya soal bisnis, tetapi panggilan untuk berkontribusi bagi Jawa Barat,” kata Herman. Ia menambahkan, keberhasilan pembangunan daerah dapat diukur melalui indikator yang jelas, seperti penurunan tingkat kemiskinan dan pengangguran secara signifikan.
Dengan kombinasi fundamental ekonomi yang dinilai kuat dan dorongan kolaborasi lintas sektor, Jawa Barat dipandang memiliki peluang untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi di tengah tantangan global. Namun, realisasi peluang tersebut bergantung pada komitmen bersama untuk menerjemahkan potensi menjadi aksi nyata.