BERITA TERKINI
Dhanavinya Dorong Pebisnis Perempuan Melihat Krisis Global sebagai Peluang

Dhanavinya Dorong Pebisnis Perempuan Melihat Krisis Global sebagai Peluang

Ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi harga energi, dan ancaman inflasi masih menjadi tantangan bagi banyak negara. International Monetary Fund (IMF) dalam laporan World Economic Outlook memproyeksikan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia ke kisaran 3,1 persen pada 2026. Sementara itu, World Bank mengingatkan tekanan dari sektor energi berpotensi memengaruhi laju inflasi dan pertumbuhan ekonomi secara luas.

Di tengah situasi tersebut, komunitas pebisnis perempuan Dhanavinya mengangkat gagasan bahwa krisis tidak semata-mata harus dipandang sebagai ancaman, melainkan dapat menjadi momentum untuk bertransformasi dan menemukan peluang baru. Perspektif ini mengemuka dalam forum “Prosperitea Vol. 4: Global Crisis and Its Opportunity” yang digelar di Jakarta pada akhir April.

Dhanavinya didirikan pada April 2025 sebagai wadah bagi pengusaha perempuan lintas sektor. Komunitas ini diprakarsai oleh tiga pebisnis, yakni Esra Manurung, Lanny Sutiarto, dan Ailing Yang, dengan visi bertumbuh bersama dan menghadirkan dampak nyata.

Mewakili para pendiri, Esra Manurung menekankan pentingnya kolaborasi. Ia menyebut komunitas ini secara berkala mengadakan dialog, program mentoring, coaching, hingga konsultasi bisnis untuk mengembangkan kapasitas anggota.

Dalam forum tersebut, ketiga pendiri membagikan sejumlah pilar yang dinilai relevan untuk menghadapi dinamika global. Ailing Yang, penulis buku Life is a Gift, menyoroti pentingnya membangun pola pikir yang tepat dalam membaca krisis. Menurutnya, ketidakpastian perlu dipahami, bukan ditakuti, serta dapat menjadi ruang bertumbuh bagi mereka yang berani melihat peluang dari sudut pandang berbeda.

Esra Manurung, penulis From Poverty to Wealth, menekankan perlunya transformasi mental melalui proses belajar berkelanjutan, termasuk dari literatur maupun mentor bisnis. Ia menilai perubahan sering kali tidak nyaman, namun dibutuhkan untuk membentuk pemimpin yang adaptif dan visioner.

Sementara itu, Lanny Sutiarto yang bergerak di bidang kesehatan dan keuangan menilai kemandirian finansial semakin krusial bagi perempuan di tengah ketidakpastian global. Ia menegaskan bahwa kemandirian finansial tidak hanya terkait kemampuan menghasilkan, tetapi juga kebijaksanaan dalam mengelola keuangan.

Forum ini juga menghadirkan Eksekutif Senior di sektor energi, Erita Yohan, sebagai narasumber utama. Ia menegaskan kemampuan adaptasi menjadi kunci bertahan dalam situasi krisis. Menurut Erita, di balik krisis selalu ada peluang yang dapat dimanfaatkan.

Erita melihat adanya pergeseran minat pasar ke sektor pangan sehat, kesehatan (wellness), energi, dan ekonomi digital. Ia menyebut sektor-sektor tersebut sebagai ruang pertumbuhan baru yang dinilai menjanjikan di tengah tekanan ekonomi.

Ia juga menilai perempuan memiliki modal alami seperti kemampuan multitasking, ketelitian, dan intuisi yang dapat membantu menghadapi ketidakpastian. Meski demikian, Erita mengingatkan masih ada tantangan seperti krisis kepercayaan diri dan tekanan sosial. Karena itu, ia mendorong perempuan untuk mulai mengambil langkah nyata tanpa menunggu kondisi benar-benar sempurna.