Presiden interim Venezuela, Delcy Rodríguez, menyerukan dialog nasional dengan kelompok oposisi untuk mencapai kesepakatan perdamaian nasional. Seruan itu disampaikan pada Sabtu (24/1/2026), tiga pekan setelah kekuasaan Nicolás Maduro tumbang menyusul operasi militer yang dilancarkan Amerika Serikat di wilayah tersebut pada awal Januari.
Dalam pidato resmi yang disiarkan televisi pemerintah dari La Guaira, Rodríguez menekankan pentingnya stabilitas negara di atas perbedaan kepentingan partisan. Ia mengimbau seluruh elemen politik di Venezuela untuk membuka saluran komunikasi secara terbuka dan saling menghormati, meskipun perbedaan ideologi di antara mereka dinilai tajam.
Seruan dialog tersebut muncul di tengah sorotan internasional terhadap pemimpin oposisi, Maria Corina Machado. Machado, yang disebut sebagai penerima Hadiah Nobel Perdamaian 2025 atas perjuangannya dalam transisi demokrasi, baru-baru ini menuai kontroversi setelah menyerahkan medali Nobel miliknya kepada Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih.
Langkah itu dipandang sebagian pihak sebagai simbol ketergantungan politik oposisi terhadap Washington, sementara Trump menyebutnya sebagai bentuk penghormatan tertinggi.
Rodríguez, yang sebelumnya menjabat sebagai wakil presiden pada era pemerintahan Maduro, kini memimpin pemerintahan interim dengan tantangan meredam potensi konflik sipil. Ia menghadapi tekanan dari kubu oposisi yang mendorong reformasi total, di tengah dinamika internal setelah penangkapan Maduro oleh pasukan AS.
Hasil dari upaya dialog ini dipandang akan menentukan arah transisi Venezuela, apakah dapat berlangsung stabil atau justru berujung pada krisis kekuasaan yang lebih dalam.

