BERITA TERKINI
Dari Mesin Tik ke Diplomasi Media: Jejak Karier Akhmad Munir di ANTARA

Dari Mesin Tik ke Diplomasi Media: Jejak Karier Akhmad Munir di ANTARA

MATARAM — Perjalanan di dunia jurnalistik kerap berawal dari ruang redaksi yang sederhana: selembar kertas, meja kerja, dan bunyi mesin tik yang pelan. Dari titik awal seperti itulah, kisah panjang karier Akhmad Munir digambarkan bertumbuh—dari kerja-kerja yang jauh dari sorotan hingga terlibat dalam kepemimpinan lembaga pers dan jejaring media internasional.

Kisah tersebut antara lain dipaparkan dalam buku biografi “Langkah Sunyi Menuju Puncak, Biografi Akhmad Munir Dari Rock n'Roll ke Jendral Wartawan” karya Abdul Hakim. Buku itu menempatkan perjalanan profesional Munir sebagai proses bertahap yang dipenuhi pembelajaran, konsistensi, dan penekanan pada integritas.

Munir menapaki kariernya di Kantor Berita ANTARA secara berjenjang. Berdasarkan catatan redaksi, ia memulai pada 1992 sebagai pembantu koresponden di Sumenep, Madura. Dari sana, kariernya berkembang dari wartawan biro Surabaya, memimpin Biro Bengkulu dan Jawa Timur, hingga menduduki posisi Redaktur Pelaksana dan Direktur Pemberitaan. Ia kemudian menjabat Direktur Utama ANTARA pada 2023–2025, dan sejak 2026 menjadi Ketua Dewan Pengawas ANTARA.

Pengalaman liputan di daerah disebut menjadi bagian penting dalam pembentukan perspektif seorang jurnalis kantor berita. Reporter tidak hanya dituntut menulis, tetapi juga memahami dinamika sosial di wilayah liputan yang beragam. Dalam fase ini, Munir digambarkan tidak hanya menghasilkan berita, melainkan juga membangun jaringan profesional yang bertumpu pada kepercayaan dan konsistensi kerja.

Seiring pengalaman memimpin biro di berbagai wilayah, kemampuan manajerial redaksi turut berkembang. Tanggung jawab seperti mengelola tim, memastikan akurasi, dan menjaga kredibilitas lembaga menjadi bagian dari tugas yang semakin besar. Pada saat yang sama, media menghadapi perubahan besar akibat teknologi digital yang mengubah cara informasi diproduksi dan dikonsumsi.

Dalam konteks perubahan itu, transformasi digital dipandang sebagai kebutuhan yang tidak terhindarkan, termasuk bagi ANTARA. Tantangan utama di era digital bukan hanya soal kecepatan, melainkan juga memastikan informasi tetap akurat di tengah arus informasi yang semakin deras.

Fenomena disinformasi dan berita palsu menjadi salah satu ujian terbesar bagi jurnalisme modern. Di ANTARA, salah satu respons yang disebutkan adalah pengembangan JACX, sebuah platform verifikasi fakta yang dirancang untuk memerangi penyebaran hoaks di ruang digital. Inisiatif ini diposisikan sebagai upaya memanfaatkan teknologi tanpa mengorbankan prinsip dasar jurnalistik, terutama akurasi dan verifikasi.

Pendekatan tersebut juga dikaitkan dengan prinsip kerja yang dikenal sebagai 3E dan 1N: mendidik masyarakat, memberdayakan publik melalui informasi, mencerahkan ruang diskusi, serta menanamkan rasa kebangsaan. Dalam layanan informasi publik, prinsip itu menekankan bahwa informasi tidak hanya harus cepat, tetapi juga bermanfaat.

Di tengah perkembangan itu, Munir disebut sebagai salah satu tokoh yang mendorong pemahaman digitalisasi sebagai perubahan paradigma, bukan sekadar pembaruan teknis. Penekanan utamanya adalah menjaga jurnalisme tetap berakar sebagai penyedia informasi tepercaya, terutama ketika media sosial memunculkan banjir informasi yang tidak selalu terverifikasi.

Peran kantor berita juga digambarkan melampaui kepentingan nasional. Dalam dunia yang semakin terhubung, informasi menjadi bagian dari diplomasi global, di mana negara memiliki kepentingan menyampaikan perspektifnya kepada komunitas internasional. ANTARA dipaparkan memiliki posisi strategis dalam jaringan media internasional melalui partisipasi dalam berbagai forum global.

Dalam fase ini, Munir disebut terlibat dalam inisiatif kerja sama media internasional, termasuk penguatan jaringan kantor berita di Asia Tenggara melalui konsep newsroom regional. Kolaborasi semacam itu membuka ruang pertukaran informasi yang lebih luas dan memperkuat penyampaian narasi tentang Indonesia melalui jejaring global.

Keterlibatan dalam forum internasional juga digambarkan memberi pengalaman tentang dinamika geopolitik informasi—bahwa media kerap berada di tengah tarik-menarik kepentingan global. Dalam konteks tersebut, pemahaman atas bagaimana fakta dipahami dalam konteks global dinilai penting bagi pemimpin media.

Di tengah perubahan teknologi dan persaingan media digital, narasi perjalanan Munir menekankan pentingnya menjaga integritas. Godaan untuk mengejar sensasi dan memprioritaskan kecepatan dibanding akurasi disebut sebagai risiko yang dapat menggerus kepercayaan publik. Tanpa kepercayaan, media dipandang kehilangan kekuatan moralnya.

Rangkaian transformasi dan inovasi yang dijalankan di ANTARA dalam cerita ini menunjukkan upaya menjaga relevansi media publik tanpa meninggalkan identitasnya. Dari awal karier yang dimulai dari mesin tik hingga keterlibatan di panggung global, pesan yang ditekankan tetap sama: jurnalisme adalah amanah publik yang tidak berubah, meski dunia terus berubah.

Di luar perannya di ANTARA, catatan redaksi juga menyebut Munir aktif di organisasi pers hingga menjadi Ketua Umum PWI Pusat, serta berkiprah dalam organisasi olahraga seperti Persebaya, KONI, dan PSSI Jawa Timur.