Dua bulan setelah invasi militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran, dampak ekonomi konflik tersebut kian terasa meluas, termasuk di Eropa. Eskalasi resesi dan inflasi disebut menjadi indikator utama, dengan penutupan Selat Hormuz sebagai faktor pembeda dibanding konflik-konflik sebelumnya. Jalur vital energi dunia itu dinilai mengacaukan rantai pasok global dan menekan pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara, terutama di Eropa.
Dalam situasi ini, perhatian tertuju pada besarnya biaya ekonomi yang harus ditanggung negara-negara terdampak serta perkiraan waktu pemulihan. Sejumlah pejabat Eropa menyampaikan proyeksi terbaru yang menunjukkan tekanan signifikan pada perekonomian kawasan.
Jerman disebut paling terpukul
Di Eropa, Jerman digambarkan sebagai negara yang menerima pukulan paling berat. Menteri Keuangan Jerman Lars Klingbeil menyatakan perang yang dipimpin Presiden AS Donald Trump terhadap Iran telah memangkas separuh pertumbuhan ekonomi Jerman, disertai lonjakan tajam biaya bahan bakar dan energi, meski Berlin tidak terlibat langsung dalam perang.
Tekanan itu dinilai berkaitan langsung dengan gangguan rantai pasok energi dan industri. Industri otomotif Jerman, yang sebelumnya telah menghadapi hambatan akibat krisis energi terkait perang Ukraina, disebut semakin terpukul oleh kenaikan harga energi dan terputusnya rantai pasok komponen melalui Selat Hormuz.
Menteri Ekonomi Federal Jerman dari CDU, Katerina Reich, memperkirakan konflik di Teluk Persia akan membatasi pertumbuhan ekonomi Jerman tahun ini menjadi sekitar 0,5%.
Italia pangkas proyeksi, Spanyol bertahan
Tekanan ekonomi juga dilaporkan terjadi di negara Eropa lain. Perdana Menteri Italia Georgia Meloni menyampaikan bahwa prioritas pemerintahnya adalah mengendalikan tekanan inflasi, terutama pada energi, yang dikaitkan dengan dampak perang Amerika terhadap Iran. Ia menekankan pengendalian harga dan energi serta pencegahan dampak inflasi terhadap pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebagai agenda utama.
Di sisi lain, Spanyol menunjukkan kinerja yang relatif lebih kuat. Data Institut Statistik Nasional Spanyol (INE) mencatat PDB Spanyol pada kuartal pertama tahun ini tumbuh 0,6% dibanding kuartal sebelumnya dan 2,7% secara tahunan. Menteri Ekonomi Spanyol Carlos Cuerpo menyatakan ekonomi negaranya mampu mempertahankan laju pertumbuhan pada awal tahun di tengah perang di Iran.
Ia mengaitkan capaian tersebut dengan investasi energi terbarukan—yang disebut mencapai 55% dalam bauran energi—diversifikasi sumber impor minyak dengan mengganti pasokan dari Teluk Persia melalui AS dan Afrika, serta paket bantuan senilai 5 miliar euro untuk rumah tangga dan bisnis. Namun, inflasi Spanyol tetap meningkat akibat perang. Meski pada April turun menjadi 3,2%, harga bahan bakar disebut masih tinggi. Bank Sentral Spanyol sebelumnya memperingatkan kemungkinan perlambatan ekonomi yang signifikan bila perang berlanjut.
Komisi Eropa: krisis energi kedua dalam empat tahun
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyatakan konsekuensi konflik di Asia Barat berpotensi berlanjut selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Ia menyebut kondisi saat ini sebagai krisis energi besar kedua dalam empat tahun terakhir.
Untuk merespons situasi tersebut, von der Leyen mengusulkan tiga langkah: peningkatan koordinasi di tingkat Eropa, perlindungan bagi konsumen dan pelaku usaha, serta modernisasi konsumsi energi secara sistematis.
Selat Hormuz dan guncangan pasokan energi
Selat Hormuz, jalur sempit antara Iran dan Oman, dinilai menjadi titik kunci dampak ekonomi global. Selat ini disebut sebagai rute transit seperlima minyak mentah dan gas alam cair dunia. Penutupan Selat Hormuz terjadi setelah blokade laut AS terhadap Iran, yang pada akhirnya membuat selat tersebut ditutup sepenuhnya.
Bank Dunia memperingatkan perang di Timur Tengah telah menyebabkan penurunan pasokan minyak terbesar dalam sejarah, serta mendorong harga energi tahun ini rata-rata meningkat sekitar seperempat. Ditutupnya Selat Hormuz juga memaksa kapal-kapal menempuh rute yang lebih jauh dan lebih mahal, sehingga memperburuk kenaikan harga.
Bank Dunia memperkirakan dibutuhkan setidaknya enam bulan agar transportasi laut melalui Selat Hormuz kembali normal. Dalam periode itu, ekonomi global diperkirakan menghadapi guncangan besar.
Perkiraan pemulihan: inflasi hingga beberapa tahun
Oxford Economics memperkirakan inflasi akibat perang Iran berpotensi hilang sepenuhnya dua hingga tiga tahun setelah konflik berakhir. Dalam skenario paling optimistis—termasuk jika gencatan senjata segera terjadi—dampak psikologis dan gangguan logistik disebut masih dapat menekan ekonomi Jerman dan sejumlah negara Eropa lain setidaknya selama satu tahun.
Untuk pemulihan pertumbuhan ekonomi, pengalaman perang sebelumnya disebut menunjukkan negara yang terlibat langsung membutuhkan program lima tahun untuk mengatasi masalah ekonomi dan membangun kembali infrastruktur. Sementara negara yang terutama terkena guncangan energi diperkirakan dapat pulih dalam 18 hingga 24 bulan, dengan syarat perang tidak berkepanjangan.
Dampak meluas hingga kawasan dan AS
Laporan tersebut juga menyinggung dampak pada negara-negara lain. Uni Emirat Arab disebut tetap terdampak penutupan Selat Hormuz meski telah keluar dari OPEC. Arab Saudi, meski memiliki cadangan minyak besar, dinyatakan menghadapi keterbatasan ekspor melalui rute alternatif dengan biaya yang wajar.
Israel juga disebut tidak kebal terhadap konsekuensi ekonomi perang. Analis ekonomi di negara itu melaporkan biaya perang serta penghentian ekspor gas dari sumur bersama telah membuat pertumbuhan ekonomi menjadi negatif. Di AS, para analis Wall Street memperkirakan inflasi akan melampaui 4%, bahkan jika gencatan senjata tercapai.
Secara keseluruhan, perang Iran dan penutupan Selat Hormuz digambarkan bukan hanya berdampak pada Timur Tengah, tetapi juga menekan stabilitas ekonomi global, terutama melalui lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok yang memukul negara-negara Eropa.