China memberi sinyal akan mempertahankan dukungan bagi perekonomian, namun menahan diri untuk tidak meningkatkan stimulus secara agresif pada 2026. Arah kebijakan ini menegaskan pergeseran fokus dari sekadar merespons tarif Amerika Serikat menuju upaya mengamankan pertumbuhan jangka panjang.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Kamis (11/12/2025) setelah Konferensi Kerja Ekonomi Pusat ditutup, pemerintah menyatakan akan memanfaatkan pemotongan suku bunga dan persyaratan cadangan secara “fleksibel dan efisien” untuk memastikan ketersediaan likuiditas yang memadai. Pemerintah juga menyebut akan mempertahankan tingkat defisit anggaran serta belanja pemerintah yang “diperlukan” pada 2026.
Bahasa yang digunakan dalam pertemuan tersebut menunjukkan keinginan untuk menjaga stimulus tetap terukur. Sikap ini muncul setelah China disebut keluar dari perang dagang dengan AS tanpa banyak kerugian, didukung lonjakan ekspor secara cepat ke berbagai negara.
Isyarat tersebut mengindikasikan pembuat kebijakan merasa cukup puas dengan bauran kebijakan saat ini. Dengan ruang itu, pemerintah dapat melanjutkan strategi pertumbuhan yang ditopang sektor manufaktur, meski tetap menjalankan kebijakan untuk mendorong konsumsi.

