China menyalurkan bantuan kemanusiaan darurat ke sejumlah negara di Timur Tengah di tengah eskalasi perang antara AS-Israel dan Iran. Langkah Beijing ini dinilai tidak hanya sebagai bentuk solidaritas, tetapi juga terkait upaya menjaga stabilitas kawasan yang berpengaruh pada jalur energi global serta posisi diplomatik China di Timur Tengah.
Pada Selasa (17/3/2026), pemerintah China mengumumkan bantuan akan disalurkan ke Iran, Yordania, Lebanon, dan Irak. Pengiriman dilakukan saat jutaan warga sipil terdampak serangan udara dan konflik bersenjata, yang memicu gelombang pengungsian.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyatakan bantuan tersebut ditujukan langsung untuk warga yang terdampak. Mengacu pada data PBB, sedikitnya 25 juta orang terdampak konflik, termasuk sekitar 800.000 warga Lebanon yang kehilangan tempat tinggal.
“China telah memutuskan untuk memberikan bantuan kemanusiaan darurat. Diharapkan hal ini dapat membantu meringankan penderitaan kemanusiaan yang dihadapi penduduk setempat,” ujar Lin Jian, dikutip dari AFP.
Selain penyaluran bantuan, Beijing juga meningkatkan aktivitas diplomasi melalui pendekatan “shuttle diplomacy” yang dijalankan utusan khusus China, Zhai Jun. Dalam perkembangannya, China disebut aktif berkomunikasi dengan sejumlah pemimpin dunia untuk mendorong de-eskalasi konflik.
Sejumlah analis menilai, terdapat kepentingan strategis yang menyertai langkah tersebut, terutama terkait keamanan energi. Sekitar 55% impor minyak China bergantung pada Selat Hormuz, yang disebut berisiko ditutup oleh Iran sebagai respons atas agresi militer AS-Israel.
Dengan menyalurkan bantuan dan menempatkan diri sebagai pihak yang mendorong mediasi, China berupaya mempertahankan stabilitas kawasan sekaligus memperkuat citra sebagai pihak yang berperan dalam perdamaian global, di tengah persaingan pengaruh dengan Amerika Serikat.
Langkah ini juga dipandang sebagai sinyal politik terhadap Presiden AS Donald Trump, yang disebut menunda kunjungan ke Beijing akibat konflik. Dalam konteks tersebut, China menegaskan kesiapan membantu stabilitas regional tanpa mengikuti tekanan politik Washington terhadap Teheran.
Setelah pengumuman resmi, China diharapkan merinci logistik bantuan yang akan disalurkan kepada ribuan keluarga terdampak. Sebelumnya, Palang Merah China telah mengirim bantuan awal senilai 200.000 dolar AS ke wilayah selatan Iran pada pekan lalu.
Ke depan, tantangan bagi Beijing adalah membuktikan bahwa pendekatan diplomasi “jalan tengah” yang diusung dapat berkontribusi mencegah krisis energi global, terutama jika terjadi gangguan atau blokade pada jalur minyak utama di Timur Tengah.

