China menyampaikan kritik terhadap rencana Amerika Serikat (AS) menyesuaikan kebijakan nuklirnya, serta memperingatkan bahwa mempertahankan persenjataan nuklir dalam jumlah besar dapat meningkatkan risiko konflik. Pernyataan ini muncul setelah AS menyatakan akan menyeimbangi para rivalnya dengan kembali melakukan uji coba senjata nuklir.
Dalam dokumen white paper tentang pengendalian senjata yang dirilis Kantor Informasi Dewan Negara China pada Kamis (27/11), Beijing menilai ada negara-negara yang terus mengubah kebijakan nuklirnya sambil tetap mempertahankan persenjataan nuklir secara masif. China menyebut langkah tersebut disertai peningkatan kemampuan deterensi dan kemampuan tempur nuklir, yang pada akhirnya memperbesar risiko konflik nuklir global.
Dokumen itu terbit setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menyamai para lawannya dalam melakukan uji coba nuklir. Pernyataan Trump disampaikan menyusul pengumuman Rusia mengenai uji coba drone bawah air bertenaga nuklir serta rudal jelajah yang memiliki kapabilitas nuklir. Trump menambahkan bahwa AS akan melakukan uji coba tersebut “dalam waktu dekat.”
Meski demikian, belum jelas bentuk uji coba yang dimaksud Trump. Pernyataan itu bisa merujuk pada peledakan hulu ledak nuklir—yang akan membalikkan kebijakan AS selama puluhan tahun dan melanggar larangan global secara de facto—atau sebatas memperluas uji coba sistem peluncur, seperti rudal balistik antarbenua yang dapat membawa hulu ledak nuklir.

