Perdana Menteri Australia Anthony Albanese pada Senin (27/10) menggambarkan hubungan Australia dan China sebagai hubungan antara “sahabat”. Pernyataan itu disampaikan di tengah upaya kedua negara menjaga komunikasi, meski masih diwarnai ketegangan terkait insiden militer di Laut China Selatan.
Dalam pertemuan dengan Albanese di sela-sela pertemuan puncak para pemimpin Asia Tenggara di Malaysia, Perdana Menteri China Li Qiang mengatakan Beijing siap membangun kemitraan yang lebih stabil dan strategis dengan Australia. Menurut laporan kantor berita resmi China, Xinhua, Li menilai hubungan China–Australia saat ini menunjukkan tren positif ketika keduanya bertemu di Kuala Lumpur.
Albanese sebelumnya telah mengunjungi China pada Juli lalu untuk memperbaiki hubungan yang sempat memburuk dan nyaris putus pada masa pemerintahan Australia sebelumnya. Ia menyatakan komitmen untuk menjaga jalur komunikasi tetap terbuka dan mencari bidang kerja sama, sambil menghindari potensi “kesalahpahaman”.
Namun, hubungan kedua negara sempat kembali memanas pekan lalu setelah saling melontarkan tudingan terkait insiden antara militer mereka di Laut China Selatan. Australia menuduh jet tempur China menjatuhkan suar (flare) di dekat salah satu pesawat patroli Australia. Sementara itu, Beijing menuding Canberra berupaya menutupi “pelanggaran” ke wilayah udara China.
“Saya sudah menyampaikan secara langsung bahwa insiden ini menjadi perhatian serius bagi Australia,” kata Albanese kepada wartawan usai pertemuannya dengan Li.
Insiden serupa juga terjadi pada Februari lalu. Saat itu, Australia mengecam tindakan pilot jet tempur China yang dinilai “tidak aman dan tidak profesional” karena menjatuhkan suar dalam jarak sekitar 30 meter dari pesawat patroli maritim Australia di Laut China Selatan.
Di kawasan Asia-Pasifik, China terus memperluas pengaruhnya terhadap negara-negara Kepulauan Pasifik melalui perdagangan dan diplomasi. Pada 2022, Beijing menandatangani perjanjian keamanan dengan Kepulauan Solomon, lalu pada tahun berikutnya menyepakati kerja sama kepolisian.
Bulan ini, Australia menandatangani perjanjian kerja sama pertahanan dengan Papua Nugini. Langkah tersebut, menurut para pengamat, bertujuan menyeimbangkan meningkatnya kehadiran keamanan China di kawasan.
Meski diwarnai rivalitas dan insiden militer, hubungan ekonomi kedua negara disebut tetap stabil. Keduanya secara konsisten menyerukan perdagangan bebas dan dialog yang lebih mendalam. Dalam laporan Xinhua, Li menyatakan China bersedia bekerja sama dengan Australia di bidang ekonomi hijau, industri berteknologi tinggi, dan sektor digital.
Albanese juga menekankan bahwa pertemuannya yang ketujuh dengan Li menunjukkan Australia dan China—mitra dagang terbesar bagi Australia—masih dapat mengelola perbedaan melalui dialog. “Kami memang memiliki perbedaan, dan sebagai sahabat bisa membahas isu-isu itu secara terbuka—itulah yang saya lakukan,” ujarnya.

