BERITA TERKINI
China Bantah Tuduhan Uji Nuklir AS, Sebut Washington Manipulasi Isu untuk Pertahankan Dominasi

China Bantah Tuduhan Uji Nuklir AS, Sebut Washington Manipulasi Isu untuk Pertahankan Dominasi

Pemerintah China membantah tuduhan dari pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait uji senjata nuklir. Beijing menilai tudingan tersebut tidak berdasar dan disebut hanya menjadi alasan bagi Amerika Serikat untuk kembali melakukan uji coba nuklir.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, mengatakan tuduhan berulang terhadap China mengenai pengembangan senjata nuklir merupakan distorsi dan pencemaran terhadap kebijakan nuklir China. Ia menyebut langkah tersebut mencerminkan manipulasi politik dari Amerika Serikat.

Menurut Lin, Washington berupaya mempertahankan dominasi nuklir sekaligus menghindari kewajiban pelucutan senjata nuklir. “China dengan tegas menentang hal ini,” ujar Lin.

Lin juga menilai Amerika Serikat saat ini menjadi sumber utama gangguan terhadap tatanan nuklir internasional dan stabilitas strategis global. Ia menyoroti keputusan Amerika Serikat yang membiarkan berakhirnya perjanjian New Start, yang menurutnya telah merusak kepercayaan di antara negara-negara besar dan mengguncang stabilitas keamanan global.

Di sisi lain, Presiden Donald Trump menolak proposal resmi untuk tetap mematuhi batasan New Start. Trump sebelumnya menginginkan perjanjian tersebut turut melibatkan China.

Namun, Beijing menolak usulan itu dengan alasan kapabilitas nuklir China masih jauh di bawah Amerika Serikat dan Rusia. China menilai pendekatan tersebut tidak mencerminkan keseimbangan serta realitas kekuatan nuklir global saat ini.

Berakhirnya New Start memicu kekhawatiran internasional tentang potensi perlombaan senjata nuklir tiga arah antara Amerika Serikat, Rusia, dan China. Meski jumlah hulu ledak China disebut jauh lebih sedikit dibanding dua negara lainnya, China dinilai tengah mempercepat modernisasi militernya, yang turut menambah ketegangan geopolitik global.

Perkembangan ini dipandang berpotensi memengaruhi stabilitas keamanan dunia dan meningkatkan risiko eskalasi konflik strategis, terutama di tengah ketidakpastian hubungan di antara negara-negara besar.