BERITA TERKINI
BRICS Bahas Pengurangan Ketergantungan pada Dolar AS, Ini Potensi Dampaknya ke Pasar Valas

BRICS Bahas Pengurangan Ketergantungan pada Dolar AS, Ini Potensi Dampaknya ke Pasar Valas

Kelompok BRICS yang beranggotakan Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan tengah membahas upaya kolektif untuk mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat dalam transaksi internasional. Pembahasan ini mengemuka di tengah perubahan lanskap ekonomi global dan meningkatnya perhatian terhadap alternatif sistem keuangan yang selama puluhan tahun didominasi dolar.

Diskusi tersebut tidak mengarah pada penghapusan dolar secara langsung, melainkan pada diversifikasi penggunaan mata uang dalam perdagangan dan pembayaran lintas negara. Selama ini, dolar berperan sebagai mata uang cadangan dunia sejak era pasca-Perang Dunia II, didukung faktor stabilitas, likuiditas, serta penerimaan global yang luas. Dominasi itu juga membuat dolar menjadi acuan utama dalam berbagai transaksi internasional, mulai dari perdagangan komoditas hingga pembiayaan utang.

Dalam konteks BRICS, gagasan diversifikasi didorong oleh sejumlah kepentingan masing-masing negara. Tiongkok telah lama mendorong penggunaan yuan dalam perdagangan internasional. Rusia, yang menghadapi sanksi dari negara-negara Barat, juga aktif mencari alternatif sistem pembayaran di luar dolar. Sementara itu, India berkepentingan memperluas peran mata uangnya seiring pertumbuhan ekonomi dan besarnya pasar domestik. Koordinasi di antara anggota BRICS dipandang sebagai langkah untuk menyatukan arah kebijakan, termasuk memperluas penggunaan mata uang anggota dalam transaksi bilateral.

Wacana yang berkembang menekankan pembangunan sistem pembayaran yang lebih multipolar, bukan semata-mata pembentukan mata uang baru BRICS untuk menggantikan dolar. Namun, jika penggunaan mata uang BRICS dalam perdagangan meningkat, hal ini berpotensi mengurangi dominasi dolar secara bertahap.

Di pasar valuta asing, perubahan arah kebijakan semacam ini dinilai dapat memengaruhi sentimen terhadap dolar dan sejumlah pasangan mata uang utama. Jika sentimen global bergerak menjauh dari dolar, pasangan seperti EUR/USD berpotensi menguat, meski tetap dipengaruhi kondisi ekonomi zona euro. Dampak serupa dapat terlihat pada GBP/USD, dengan catatan faktor domestik Inggris juga berperan. Untuk USD/JPY, pelemahan dolar secara luas dapat mendorong pasangan ini turun, mengingat yen kerap dipandang sebagai aset safe-haven saat ketidakpastian meningkat.

Selain itu, emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar (XAU/USD) kerap dilihat sebagai instrumen lindung nilai terhadap ketidakpastian mata uang. Jika dolar melemah atau pamornya sebagai mata uang cadangan dipertanyakan, minat terhadap emas dapat meningkat. Di sisi lain, mata uang negara BRICS—seperti yuan, rubel, rupee, real Brasil, dan rand Afrika Selatan—dapat menguat apabila permintaan penggunaannya dalam transaksi internasional bertambah.

Meski demikian, perubahan fundamental dalam sistem moneter global umumnya berlangsung dalam jangka panjang dan tidak terjadi secara instan. Pergerakan pasar valas juga dipengaruhi banyak faktor lain, mulai dari kebijakan moneter bank sentral, data ekonomi makro, hingga dinamika geopolitik.

Bagi pelaku pasar, perkembangan ini dapat menjadi bahan pemantauan, terutama terkait indikator konkret seperti perjanjian dagang yang menggunakan mata uang lokal atau kebijakan yang memfasilitasi transaksi non-dolar. Perhatian juga dapat diarahkan pada korelasi antaraset—misalnya hubungan antara pergerakan dolar dan emas—serta pentingnya diversifikasi untuk mengelola risiko.

Di tengah potensi perubahan sentimen, volatilitas tetap menjadi risiko yang perlu diperhitungkan. Perkembangan kebijakan dan sinyal baru dari negara-negara BRICS dapat memicu pergerakan harga yang lebih tajam dalam jangka pendek, sehingga manajemen risiko menjadi aspek penting bagi pelaku pasar.

Secara keseluruhan, upaya BRICS untuk mendiversifikasi penggunaan mata uang dinilai mencerminkan kebutuhan akan sistem keuangan internasional yang lebih beragam. Meskipun kemungkinan perubahan dominasi dolar merupakan proses yang kompleks dan panjang, arah pembahasan yang berkembang tetap berpotensi memengaruhi dinamika pasar valuta asing dan aset terkait.