Rusia menghadapi hambatan besar untuk mengalihkan ekspor gas alam cair (LNG) dari Eropa ke Asia di tengah lonjakan harga energi global dan tekanan geopolitik. Kendala utama berasal dari struktur kontrak jangka panjang yang mengikat sebagian besar volume ekspor, serta biaya pengiriman yang tinggi untuk menjangkau pasar Asia.
Wacana pengalihan pasokan ini mencuat seiring pernyataan Presiden Rusia Vladimir Putin pada awal Maret, yang menyebut Rusia dapat menghentikan pasokan gas ke Eropa dan mencari pembeli baru dengan komitmen jangka panjang. Putin menyebut gagasan tersebut sebagai “berpikir keras” dan menilai langkah itu berpotensi lebih menguntungkan bagi Rusia dalam jangka pendek.
Namun, realisasi pengalihan pasokan dinilai tidak sederhana. Data Kpler menunjukkan Uni Eropa masih mengimpor sekitar 14,94 juta metrik ton atau 20,3 miliar meter kubik LNG dari proyek Yamal pada 2025. Sekitar 70% dari volume tersebut terikat kontrak jangka panjang, sehingga sulit dialihkan ke pasar lain.
Direktur gas & LNG Eropa Wood Mackenzie, Tom Marzec-Manser, menyebut Rusia hanya memiliki sekitar 2,4 juta ton LNG spot yang tersedia tahun ini. Ia memperkirakan volume maksimal yang dapat dialihkan dari Eropa ke Asia pada 2025 hanya sekitar 1,7 juta ton, setara 1,7% dari total impor LNG Uni Eropa yang mencapai 100,5 juta ton pada 2025.
Selain faktor kontrak, hambatan besar lainnya adalah logistik. Pengiriman LNG Rusia ke Asia paling cepat dilakukan melalui Jalur Laut Utara di sepanjang pesisir Arktik Rusia, tetapi rute ini hanya dapat dilalui pada periode Juli hingga akhir November dan membutuhkan kapal khusus kelas es ARC7. Di luar periode tersebut, pengiriman harus melalui Terusan Suez atau memutar lewat Tanjung Harapan, yang dapat memakan waktu sekitar dua kali lebih lama dan meningkatkan biaya secara signifikan.
Keterbatasan armada kapal tanker juga menjadi persoalan. Direktur Eikland Energy, Kjell Eikland, menyebut proyek Yamal mengekspor sekitar 18 juta ton LNG per tahun. Untuk mempertahankan volume itu sekaligus melayani pasar Asia mulai 2027, Novatek diperkirakan membutuhkan tambahan 25 hingga 35 kapal tanker selama musim dingin. Bahkan untuk mengalihkan sekitar 30% volume LNG spot ke Asia tahun ini, Rusia masih memerlukan tambahan sekitar 10 kapal tanker.
Risiko operasional turut menambah kompleksitas. Moskow dilaporkan menghindari rute Terusan Suez sejak awal Maret setelah sebuah tanker LNG Rusia terbakar di lepas pantai Libya. Rusia menyebut insiden tersebut sebagai serangan drone laut Ukraina, sementara Ukraina belum memberikan komentar.
Dari sisi pendanaan, akses pembiayaan perdagangan juga disebut semakin sulit. Meski proyek Yamal tidak terkena sanksi langsung, sejumlah fasilitas LNG Rusia lainnya, kapal, dan lembaga pembiayaan telah dikenai sanksi Barat. Sumber industri menyebut pembayaran untuk pengiriman LNG tambahan kemungkinan harus dilakukan di luar sistem perbankan konvensional, termasuk melalui skema antar pemerintah.
Di saat yang sama, dinamika geopolitik global ikut memengaruhi pasar. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran disebut telah mendorong lonjakan harga gas, karena sekitar 20% pasokan LNG global terganggu.
Tekanan terhadap ekspor LNG Rusia ke Eropa juga meningkat seiring kebijakan Uni Eropa yang akan melarang impor LNG Rusia dari kontrak jangka pendek mulai 25 April dan kontrak jangka panjang mulai 1 Januari 2027. Kondisi ini mendorong Rusia mencari pasar alternatif di Asia, meski fleksibilitas pengalihan volume dinilai tetap terbatas.
Lonjakan tarif pengiriman LNG akibat krisis di Timur Tengah membuat pengalihan ke Asia dinilai hanya masuk akal bila Rusia memberikan diskon harga besar. Namun, bahkan dengan diskon signifikan, LNG Rusia berisiko tetap terlalu mahal bagi pembeli Asia yang sensitif terhadap harga. China diperkirakan menjadi pembeli utama tambahan LNG Rusia, dengan syarat harga yang jauh lebih murah.

