Jakarta – Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memaparkan tiga jalur utama dampak konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia. Menurutnya, kedalaman dampak perang di Timur Tengah akan ditentukan oleh intensitas konflik, besaran kerusakan, serta durasi perang.
Destry menjelaskan, jalur pertama adalah jalur finansial yang mencakup dampak langsung dan tidak langsung. Dari sisi langsung, Iran dan Israel bukan pusat keuangan global, sehingga pengaruhnya terhadap sektor keuangan dinilai tidak terlalu besar dan reaksi pasar di kawasan Timur Tengah relatif terbatas.
Namun, dampak tidak langsung dinilai jauh lebih signifikan karena melibatkan AS yang merupakan pusat keuangan global. Keterlibatan negara besar tersebut meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global dan memperkuat sentimen risiko.
Dalam situasi meningkatnya risiko, investor cenderung menghindari aset berisiko (risk off) dan beralih ke instrumen safe haven. Peralihan ini mendorong arus modal bergeser dari negara berkembang ke negara maju. Akibatnya, indeks dolar AS menguat dan menekan nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Destry menyebutkan, arus dana ke negara-negara emerging market ikut berkurang. Di Indonesia, meski mulai terlihat inflow pada Surat Berharga Negara (SBN), saham, dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), secara keseluruhan masih terjadi outflow sekitar Rp21 triliun. Kondisi tersebut turut memengaruhi ekspektasi inflasi dan kenaikan risk premium, terutama terkait faktor fiskal, seiring meningkatnya yield di berbagai negara.
Jalur kedua adalah jalur komoditas. Dampak langsungnya terutama terlihat pada harga minyak, antara lain akibat penutupan Selat Hormuz yang mengganggu distribusi. BI menghitung, meski pangsa produksi minyak Iran sekitar 5% dari produksi global, gangguan distribusi yang terjadi dapat memengaruhi sekitar 20% suplai minyak global.
Destry menambahkan, ketidakpastian yang tinggi membuat pergerakan pasar menjadi cepat berubah. Ia mencontohkan dinamika informasi terkait perundingan yang belum mencapai kesepakatan, yang kemudian diikuti kenaikan berbagai indikator, termasuk penguatan indeks dolar AS (DXY) dan pelemahan mata uang regional.
Selain minyak, konflik juga memengaruhi harga komoditas lain secara tidak langsung, seperti emas, batu bara, aluminium, dan Crude Palm Oil (CPO). Destry menilai, kenaikan komoditas ekspor tersebut dapat menjadi peluang bagi Indonesia. Meski kenaikan harga minyak memberi tekanan, kenaikan harga komoditas utama ekspor Indonesia seperti batu bara, CPO, dan emas dapat memberikan dampak yang bersifat dua sisi.
Jalur ketiga adalah perdagangan dan produksi. Destry mengatakan, pangsa Produk Domestik Bruto (PDB) Iran terhadap PDB global relatif kecil, di bawah 1%. Nilai ekspor-impor Iran terhadap total perdagangan global juga disebut di bawah 1%.
Meski demikian, hambatan di Selat Hormuz dapat memicu disrupsi rantai pasok, termasuk bagi Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi. Dampak tidak langsungnya dapat menjalar ke negara lain melalui gangguan pasokan ke mitra dagang utama Iran, seperti Tiongkok, Irak, UEA, Turki, dan Indonesia.
Dengan tiga jalur tersebut, Destry menilai ekonomi global berisiko melambat di saat inflasi meningkat. Ia menggambarkan kondisi itu sebagai stagflasi, yang berpotensi membuat respons kebijakan menjadi lebih menantang. Sejumlah negara diperkirakan akan lebih berhati-hati dalam arah kebijakan, baik fiskal maupun moneter.