Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan negara-negara anggota G20 dan BRICS sepakat untuk terus memperkuat kerja sama internasional guna mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengatasi ketidakseimbangan global.
Dalam forum G20, Perry menekankan pentingnya penilaian ketidakseimbangan global tidak hanya berfokus pada neraca transaksi berjalan (current account), tetapi juga neraca finansial (financial account). Menurutnya, ketidakseimbangan global di sektor keuangan saat ini dinilai jauh lebih berisiko terhadap stabilitas perekonomian dunia.
Perry menyampaikan ada tiga respons kebijakan yang diperlukan untuk menjaga momentum pertumbuhan sekaligus mengatasi global imbalances. “Pertama, menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Kedua, mendorong reformasi struktural. Ketiga, menerapkan kebijakan perdagangan yang terbuka,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (17/4/2026).
Kesepakatan tersebut mengemuka dalam Pertemuan Pertama Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral (Finance Minister and Central Bank Governors Meeting/FMCBG) di bawah Presidensi G20 Amerika Serikat, yang berlangsung dalam rangkaian IMF–World Bank Spring Meetings 2026 di Washington, D.C. Selain itu, pembahasan juga terjadi dalam Pertemuan Kedua Deputi BRICS di bawah Presidensi India 2026 pada 14–15 April 2026.
Delegasi Indonesia dalam rangkaian pertemuan itu dipimpin oleh Gubernur BI Perry Warjiyo bersama Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa.
Presidensi G20 AS 2026 mengusung tema “Growth through Deregulation, Energy Abundance, and Innovation”. Tema ini berfokus pada upaya mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penyederhanaan regulasi, penguatan pasokan energi yang terjangkau dan aman, serta percepatan inovasi di bidang artificial intelligence dan teknologi baru.
Selain menghadiri forum G20, BI juga mengikuti Pertemuan Kedua Tingkat Deputi BRICS di bawah Presidensi India 2026 dengan tema “Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability”. Dalam forum BRICS, negara-negara anggota menyepakati penguatan kerja sama “South-South” untuk menghadapi meningkatnya fragmentasi geopolitik, keterbatasan pembiayaan, serta kerentanan makrofinansial yang memengaruhi negara-negara berkembang, antara lain melalui pembentukan Task Force on Growth and Development (TFGD).
Ke depan, bank sentral negara BRICS juga sepakat memperkuat kerja sama di area strategis, termasuk sistem pembayaran, AI, keamanan siber dan financial technology, serta jaring pengaman keuangan internasional untuk mendukung pertumbuhan.
Di sela-sela rangkaian pertemuan G20 dan BRICS, Perry turut menghadiri pertemuan bilateral dengan Gubernur Federal Reserve Bank, Michael S. Barr. Pertemuan tersebut membahas perkembangan ekonomi global, ketahanan energi, serta digitalisasi sistem pembayaran.