BERITA TERKINI
BI dan Pemerintah Tegaskan Stabilitas Ekonomi ke Investor Global, BI-Rate Dipertahankan 4,75%

BI dan Pemerintah Tegaskan Stabilitas Ekonomi ke Investor Global, BI-Rate Dipertahankan 4,75%

Bank Indonesia (BI) bersama Pemerintah Indonesia menyampaikan pesan kepada investor global bahwa fundamental ekonomi nasional dinilai tetap kuat, arah kebijakan dijaga konsisten, dan stabilitas makro terus dipelihara di tengah gejolak global.

Pesan tersebut disampaikan dalam rangkaian pertemuan dengan pelaku pasar serta US-ASEAN Business Council di Washington DC, bertepatan dengan agenda Spring Meetings 2026 Dana Moneter Internasional (IMF).

Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial dirancang untuk menjaga stabilitas nilai tukar, mengendalikan inflasi, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi. Dalam konteks itu, BI memutuskan mempertahankan BI-Rate pada level 4,75%, dengan suku bunga Deposit Facility 3,75% dan Lending Facility 5,50%.

Kebijakan tersebut disebut mencerminkan sikap “steady but vigilant”, yakni stabil namun tetap waspada terhadap tekanan global. Langkah ini juga diarahkan untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik serta meredam volatilitas rupiah di tengah ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi arus modal global.

Dalam forum yang sama, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan arah kebijakan fiskal kepada sedikitnya 18 institusi investasi global, termasuk manajer investasi besar dunia. Sejumlah investor mempertanyakan bagaimana Indonesia dapat mengejar pertumbuhan tinggi tanpa memperlebar defisit anggaran.

Pemerintah menegaskan disiplin fiskal tetap menjadi pegangan, dengan defisit anggaran dijaga terkendali di bawah 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB), sesuai amanat Undang-Undang Keuangan Negara. Pemerintah menyampaikan percepatan pertumbuhan ditempuh melalui optimalisasi belanja produktif, reformasi struktural, serta penguatan basis penerimaan negara, bukan melalui ekspansi fiskal agresif yang berisiko terhadap stabilitas.

Dalam berbagai pertemuan bilateral dan diskusi panel, Indonesia juga disebut sebagai salah satu “bright spot” di tengah perlambatan ekonomi global. IMF menilai Indonesia berhasil menjaga keseimbangan antara stabilitas dan ekspansi ekonomi, dengan permintaan domestik yang kuat, reformasi sektor keuangan, serta koordinasi erat antara otoritas moneter dan fiskal sebagai faktor pendukung.

Pemerintah turut menyampaikan optimisme bahwa arus modal asing berpotensi meningkat dalam waktu dekat, baik ke pasar obligasi negara maupun instrumen ekuitas. Dengan suku bunga acuan 4,75% dan stabilitas inflasi yang relatif terjaga, Indonesia dinilai tetap kompetitif dibandingkan sejumlah negara berkembang lain. Investor juga mencermati stabilitas politik dan kesinambungan kebijakan sebagai pertimbangan investasi jangka panjang.

Dari rangkaian pertemuan tersebut, BI dan Pemerintah menegaskan tiga pesan utama kepada investor global: konsistensi kebijakan makro yang terukur, komitmen mendorong pertumbuhan tanpa mengorbankan disiplin fiskal, serta ketahanan ekonomi domestik yang ditopang permintaan dalam negeri.

Pertemuan dengan US-ASEAN Business Council dipandang bukan sekadar diplomasi ekonomi, melainkan upaya memperkuat kredibilitas Indonesia di mata investor global. Dengan mempertahankan suku bunga 4,75%, menjaga defisit fiskal di bawah 3% PDB, dan memperkuat koordinasi kebijakan, pemerintah dan bank sentral menegaskan ekonomi Indonesia tetap berada pada jalurnya di tengah ketidakpastian global 2026.