Jakarta — Lonjakan harga energi yang dipicu konflik di Timur Tengah dinilai kecil kemungkinannya memicu periode inflasi tinggi yang tak terkendali dalam jangka panjang. Penilaian ini disampaikan analis BCA Research dalam laporan Strategi Investasi Global terbaru mereka.
Menurut BCA Research, risiko ekspektasi inflasi yang tidak terkendali di ekonomi global utama tetap rendah dalam 12 bulan ke depan. Meski harga minyak mengalami kenaikan, mereka menilai kondisi pasar tenaga kerja yang mulai lebih longgar serta perlambatan pertumbuhan upah dapat menjadi penyangga penting terhadap potensi terjadinya spiral upah-harga.
“Kami tidak memperkirakan guncangan minyak akan memiliki efek jangka panjang pada inflasi,” tulis laporan tersebut seperti dikutip dari Investing.com, Minggu, 19 April 2026.
Tim BCA menekankan bahwa tanpa percepatan mendadak dalam pertumbuhan upah nominal, kenaikan harga energi saat ini terutama akan menekan upah riil. Dalam kondisi tersebut, rumah tangga cenderung mengurangi pengeluaran diskresioner, alih-alih memicu inflasi luas yang bertahan lama.
Di luar volatilitas jangka pendek harga energi, BCA Research juga mengidentifikasi sejumlah kekuatan struktural yang diperkirakan membentuk lanskap inflasi untuk sisa dekade ini dan seterusnya. Kebijakan fiskal disebut akan berperan penting, mengingat arah belanja pemerintah masih menjadi pendorong utama permintaan agregat.
Selain itu, pergeseran globalisasi yang terus berlangsung—ditandai perubahan dinamika rantai pasokan serta perkembangan integrasi perdagangan—dinilai akan memengaruhi kekuatan penetapan harga dan struktur biaya secara global.
Faktor demografis turut menjadi perhatian. Penuaan populasi dan perubahan tingkat partisipasi angkatan kerja dipandang berpotensi memengaruhi kekuatan penetapan harga jangka panjang serta kendala pasokan tenaga kerja.
Terakhir, peran kecerdasan buatan (AI) disebut sebagai variabel kunci. Analis mempertimbangkan potensi AI dalam mendorong peningkatan produktivitas dibandingkan dengan kemampuannya menimbulkan disrupsi pada industri dan struktur ketenagakerjaan yang ada.
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, BCA Research menyatakan keyakinannya bahwa tekanan inflasi yang saat ini terjadi di pasar bukanlah awal dari perubahan rezim struktural.