Bank Dunia memperkirakan tekanan ekonomi global masih akan membayangi kawasan Asia Timur dan Pasifik hingga 2026. Kenaikan harga energi, konflik geopolitik, serta ketidakpastian kebijakan dinilai menjadi faktor utama yang menahan laju pertumbuhan sekaligus menekan daya beli masyarakat.
Dalam paparan Bank Dunia, Kepala Ekonom Asia Timur dan Pasifik Aaditya Mattoo menyatakan sebagian besar negara di kawasan diperkirakan mengalami perlambatan ekonomi pada tahun ini. Ia menyebut pertumbuhan di banyak negara akan lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut Mattoo, lonjakan harga minyak dan gas menjadi pemicu utama tekanan tersebut. Kenaikan biaya energi mendorong peningkatan ongkos produksi di berbagai sektor, yang kemudian merembet ke kenaikan harga barang dan jasa. Ia mencontohkan dampak biaya produksi yang naik, termasuk pada energi, pupuk, dan pangan.
Tekanan ini tidak hanya dirasakan pelaku usaha, tetapi juga langsung memengaruhi masyarakat. Jika harga energi bertahan tinggi, pendapatan tenaga kerja di kawasan diperkirakan dapat turun sekitar 3 hingga 4 persen.
Kelompok berpenghasilan rendah disebut paling rentan karena sebagian besar pengeluaran mereka terserap untuk kebutuhan dasar. Namun, Bank Dunia juga menilai tekanan mulai dirasakan kelas menengah seiring meningkatnya biaya hidup.
Di sisi lain, ketidakpastian kebijakan global memperburuk situasi. Pelaku usaha cenderung menahan investasi dan lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi, sehingga pemulihan ekonomi berjalan lebih lambat.
Dampak lanjutan terlihat pada pasar tenaga kerja. Perusahaan dinilai semakin memilih skema kerja fleksibel atau kontrak, yang mendorong peningkatan pekerjaan informal dan ekonomi gig. Kondisi ini dapat membuka peluang kerja, tetapi sekaligus membawa ketidakpastian pendapatan bagi pekerja.
Meski demikian, Bank Dunia menilai peluang pertumbuhan tetap terbuka, salah satunya melalui perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, lembaga tersebut mengingatkan kesiapan sumber daya manusia masih menjadi tantangan karena banyak tenaga kerja belum memiliki keterampilan dasar maupun kemampuan teknis yang dibutuhkan untuk memanfaatkan teknologi.
Tanpa perbaikan pada sektor pendidikan dan pelatihan, potensi peningkatan produktivitas dari AI dikhawatirkan sulit tercapai. Di tengah tekanan global yang belum mereda, masyarakat pun dihadapkan pada dua risiko sekaligus: kenaikan biaya hidup dan ketidakpastian pendapatan.