BERITA TERKINI
Bank Dunia Soroti Tantangan Struktural Indonesia: SDM, Infrastruktur, hingga Regulasi

Bank Dunia Soroti Tantangan Struktural Indonesia: SDM, Infrastruktur, hingga Regulasi

Bank Dunia menilai tantangan terbesar Indonesia saat ini tidak hanya berasal dari tekanan global, melainkan juga persoalan struktural yang berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Dalam laporan East Asia & Pacific Economic Update edisi April 2026 yang dikutip Kamis (9/4/2026), Bank Dunia mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Timur dan Pasifik, termasuk Indonesia, selama dua dekade terakhir lebih banyak ditopang oleh akumulasi modal ketimbang peningkatan produktivitas.

Kondisi tersebut mengindikasikan pertumbuhan yang belum sepenuhnya berkualitas karena tidak disertai peningkatan efisiensi dan inovasi. Bank Dunia juga menyoroti pergeseran struktur ekonomi, ketika tenaga kerja beralih dari sektor pertanian yang berproduktivitas rendah, namun banyak terserap ke sektor jasa yang produktivitasnya juga relatif rendah.

Selain itu, perusahaan-perusahaan di kawasan, termasuk Indonesia, dinilai semakin tertinggal dibanding perusahaan global, terutama pada sektor berbasis teknologi dan digital. Bank Dunia menilai situasi ini menjadi sinyal bahwa tanpa reformasi struktural, Indonesia berisiko mengalami perlambatan pertumbuhan dalam jangka panjang.

Bank Dunia menekankan tiga hambatan utama yang masih membayangi Indonesia, yaitu kualitas sumber daya manusia (SDM), infrastruktur, dan kelembagaan. Pada aspek SDM, Indonesia dinilai masih menghadapi persoalan mendasar dalam pendidikan, khususnya kemampuan dasar seperti literasi dan numerasi.

Dari sisi infrastruktur, Bank Dunia mencatat adanya kemajuan pembangunan, namun kesenjangan dibanding negara lain di kawasan masih cukup besar. Sementara itu, kualitas institusi dan regulasi juga menjadi perhatian karena efektivitas kebijakan di tingkat sektoral dinilai belum optimal, meski pengelolaan makroekonomi relatif baik.

Hambatan lain yang disebut krusial adalah tingginya pembatasan perdagangan, khususnya non-tariff measures (NTM), yang dinilai menyulitkan industri dalam negeri terhubung dengan rantai pasok global. Akibatnya, Indonesia disebut masih relatif tertinggal dalam integrasi global value chain, terutama di sektor manufaktur.

Bank Dunia menegaskan reformasi struktural menjadi kunci agar Indonesia mampu menjaga pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan. Sejumlah langkah yang disorot antara lain memperkuat kualitas SDM, meningkatkan efisiensi regulasi, serta membuka akses perdagangan dan investasi.

Bank Dunia juga menilai kebijakan industri seperti hilirisasi dapat menjadi strategi efektif, asalkan ditopang fondasi yang kuat, termasuk infrastruktur, pendidikan, dan institusi yang berkualitas. Namun, lembaga tersebut mengingatkan agar intervensi pemerintah seperti subsidi atau insentif industri dilakukan secara hati-hati dan tepat sasaran.

Tanpa dukungan reformasi yang menyeluruh, kebijakan tersebut dinilai berisiko tidak efektif dan bahkan dapat membebani fiskal. Secara keseluruhan, laporan itu menyebut Indonesia memiliki potensi besar untuk tumbuh lebih tinggi, tetapi tanpa pembenahan struktural yang serius, potensi tersebut berisiko tidak maksimal di tengah perubahan ekonomi global yang semakin cepat.