BERITA TERKINI
Bank Dunia Prediksi Ekonomi Indonesia dan Kawasan Asia Timur-Pasifik Melambat pada 2026

Bank Dunia Prediksi Ekonomi Indonesia dan Kawasan Asia Timur-Pasifik Melambat pada 2026

Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Timur dan Pasifik, termasuk Indonesia, akan melambat pada 2026 seiring meningkatnya tekanan global. Proyeksi tersebut tertuang dalam laporan East Asia & Pacific Economic Update edisi April 2026.

Dalam laporan itu, pertumbuhan ekonomi kawasan diperkirakan turun dari 5,0% pada 2025 menjadi 4,2% pada 2026, sebelum kembali naik menjadi 4,4% pada 2027. Indonesia, sebagai bagian dari kawasan, dinilai menghadapi tantangan yang serupa, meski tetap menunjukkan ketahanan dibandingkan rata-rata global.

Bank Dunia mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada kisaran yang relatif stabil dibanding negara ASEAN lainnya. Tren pertumbuhan juga diperkirakan tetap positif hingga 2027, meskipun mengalami perlambatan.

Dari sisi pendorong utama, konsumsi domestik masih menjadi motor pertumbuhan di kawasan, termasuk di Indonesia. Namun, tingkat kepercayaan konsumen disebut belum sepenuhnya pulih ke level sebelum pandemi.

Selain itu, investasi swasta di Indonesia dilaporkan masih berada di bawah tingkat pra-pandemi. Kondisi ini mencerminkan kehati-hatian pelaku usaha di tengah ketidakpastian global yang berlangsung.

Bank Dunia juga menyoroti dampak kenaikan harga energi global terhadap prospek ekonomi Indonesia. Konflik di Timur Tengah disebut memicu lonjakan harga minyak lebih dari 30%, yang berdampak langsung pada negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia. Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan inflasi serta menekan daya beli masyarakat.

Di sisi eksternal, perlambatan ekonomi global dinilai dapat menekan permintaan ekspor Indonesia. Pertumbuhan ekspor disebut mulai melambat setelah sempat meningkat pada 2025, terutama karena melemahnya permintaan global. Ketidakpastian kebijakan perdagangan global serta meningkatnya tarif juga dipandang berpotensi menghambat investasi dan aktivitas industri.

Meski demikian, Bank Dunia menilai Indonesia masih memiliki ruang kebijakan yang relatif baik untuk merespons guncangan global. Ketahanan tersebut didukung oleh cadangan devisa dan stabilitas fiskal yang dinilai kuat dibanding beberapa negara lain di kawasan.

Ke depan, Bank Dunia menekankan pentingnya reformasi struktural untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang. Tantangan yang disorot antara lain keterbatasan produktivitas, hambatan perdagangan non-tarif, serta kebutuhan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan infrastruktur.

Secara keseluruhan, prospek ekonomi Indonesia dinilai tetap positif namun berada dalam tekanan. Pemerintah dipandang perlu menjaga stabilitas, mengendalikan inflasi, serta mendorong investasi agar pertumbuhan tetap terjaga di tengah dinamika global yang tidak menentu.