JAKARTA — Bank Dunia dalam laporan Commodity Markets Outlook memperingatkan bahwa perang di Timur Tengah telah memicu guncangan pasokan energi global terbesar yang pernah tercatat. Situasi tersebut dinilai menjadi sinyal bahaya bagi perekonomian dunia.
Dalam laporan itu, Bank Dunia menyebut gangguan besar di Selat Hormuz berpotensi mendorong biaya energi naik hingga 24% pada tahun ini, sekaligus mencapai level tertinggi sejak 2022. Kenaikan biaya energi ini diperkirakan tidak hanya menekan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM), tetapi juga memicu inflasi yang dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi secara global.
Bank Dunia juga mencatat bahwa perang antara AS-Israel melawan Iran telah melumpuhkan infrastruktur energi dan jalur pelayaran yang dinilai vital. Pada tahap awal konflik, pasokan global disebut telah berkurang sekitar 10 juta barel per hari.
“Dunia sedang menghadapi guncangan pasokan energi terbesar yang pernah tercatat,” tulis Bank Dunia dalam laporannya.