PT Bank DKI resmi berganti nama menjadi Bank Jakarta bertepatan dengan peringatan ulang tahun ke-65. Perubahan identitas ini diposisikan sebagai bagian dari dukungan sektor perbankan daerah terhadap arah pembangunan Jakarta yang menargetkan penguatan peran sebagai kota global.
Gubernur Jakarta Pramono Anung menilai rebranding tersebut sebagai langkah strategis untuk mempertegas posisi Jakarta, termasuk dalam konteks kemandirian pasca-perpindahan ibu kota negara ke Nusantara (IKN). Ia menyebut Jakarta membutuhkan dukungan perbankan yang inklusif sekaligus kompetitif.
“Jakarta sebagai kota global memerlukan dukungan perbankan yang tidak lagi berpikir lokal. Bank Jakarta harus menjadi jangkar bagi seluruh ekosistem ekonomi kota, dari penyediaan infrastruktur hingga dukungan bagi warga di gang-gang sempit yang ingin naik kelas,” ujar Pramono dalam sebuah kesempatan.
Menurut Pramono, perubahan nama ini diharapkan turut memperluas jangkauan pasar dan mengurangi hambatan birokrasi, sejalan dengan kebutuhan Jakarta yang ingin memperkuat daya saing di tingkat internasional.
Di sisi layanan, Bank Jakarta menempatkan digitalisasi sebagai salah satu fokus. Selama lima tahun terakhir, bank tersebut melakukan pembaruan pada ekosistem digital, termasuk pengembangan JakOne Mobile yang disebut telah berevolusi menjadi super apps untuk mengintegrasikan beragam layanan transaksi dan pembayaran.
Dalam pengembangan tersebut, JakOne Mobile diarahkan untuk mendukung kebutuhan transaksi warga, termasuk pembayaran pajak dan retribusi, hingga tiket transportasi massal seperti MRT, LRT, dan Transjakarta. Bank juga mencatat pertumbuhan pengguna aplikasi dalam beberapa tahun terakhir, yakni 1,2 juta pengguna pada 2021 dan 2,23 juta pengguna pada 2023. Untuk 2025, bank mencantumkan estimasi 3,1 juta pengguna dengan nilai transaksi lebih dari Rp30 triliun.
Direktur Utama Bank Jakarta Agus H. Widodo menyatakan transformasi digital dilakukan untuk mendorong efisiensi dan memastikan standar keamanan transaksi. “Transformasi digital kami bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan untuk menciptakan efisiensi kota. Kami ingin memastikan bahwa setiap transaksi di Jakarta, baik oleh warga maupun wisatawan asing, dapat dilakukan dengan standar keamanan global,” kata Agus dalam pernyataan resmi.
Bank Jakarta juga menyebut pengembangan konektivitas layanan pembayaran sebagai bagian dari dukungan terhadap kemudahan akses finansial. Salah satu inovasi yang disorot adalah Jakarta Tourist Pass yang ditujukan untuk memudahkan pelancong bertransaksi di Jakarta.
Dari sisi kinerja, Bank Jakarta melaporkan pertumbuhan aset, dana pihak ketiga (DPK), kredit dan pembiayaan, serta laba bersih dalam periode 2021–2025. Berdasarkan data laporan tahunan bank, total aset meningkat dari Rp70,74 triliun pada 2021 menjadi Rp90,25 triliun pada 2025. DPK naik dari Rp52,35 triliun menjadi Rp69,10 triliun, sementara kredit dan pembiayaan bertambah dari Rp39,67 triliun menjadi Rp61,45 triliun.
Laba bersih juga tercatat meningkat dari Rp0,72 triliun pada 2021 menjadi Rp1,35 triliun pada 2025. Pada saat yang sama, rasio kredit bermasalah (NPL gross) dilaporkan turun dari 2,98% pada 2021 menjadi 1,95% pada 2025.
Pertumbuhan laba bersih tersebut disebut menjadi salah satu modal untuk rencana melantai di pasar modal melalui initial public offering (IPO). Dalam laporan yang sama, IPO Bank Jakarta diperkirakan menjadi salah satu aksi korporasi yang dinantikan di Bursa Efek Indonesia pada 2026.
Selain mengejar pertumbuhan bisnis, Bank Jakarta juga menyoroti peran pembiayaan bagi pelaku usaha kecil dan sektor informal. Bank ini menyatakan menyalurkan kredit produktif bagi UMKM melalui sinergi dengan dinas-dinas di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
“Bank Jakarta harus menjadi pelindung bagi UMKM kita. Saat Jakarta menjadi kota dunia, produk-produk lokal kita juga harus mampu bersaing. Itu memerlukan pendanaan yang stabil,” kata Pramono dalam pidato perayaan HUT Jakarta.
Bank Jakarta juga menyebut mulai mengadopsi visi green financing dengan pemberian insentif pembiayaan bagi sektor yang mendukung kelestarian lingkungan, sejalan dengan komitmen Jakarta menuju kota rendah emisi.
Dengan identitas baru, Bank Jakarta menghadapi tantangan persaingan layanan perbankan, termasuk tuntutan layanan digital yang semakin kompleks. Namun, bank menegaskan akan melanjutkan transformasi dengan bertumpu pada kinerja dan penguatan peran dalam ekosistem ekonomi Jakarta.