Para menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara anggota ASEAN menyampaikan keprihatinan atas meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan potensi dampaknya terhadap perekonomian global. Kekhawatiran itu disampaikan dalam pernyataan bersama setelah Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral ASEAN ke-13 (AFMGM) di Manila, Filipina.
Dalam pernyataan tersebut, para pejabat menilai risiko geopolitik yang meningkat, ketidakpastian perdagangan global, serta gangguan di pasar energi berpotensi memicu kenaikan inflasi, menggoyahkan pasar keuangan, dan mengganggu arus modal. Mereka menyerukan penguatan koordinasi kebijakan dan kerja sama keuangan, mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif, memperkuat jaring pengaman keuangan, mempercepat transformasi digital, serta meningkatkan pengelolaan risiko terkait iklim.
AFMGM ke-13 diselenggarakan di bawah kepemimpinan bersama Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara tuan rumah. Filipina saat ini memegang jabatan ketua bergilir ASEAN pada 2026.
Di hari yang sama, Presiden Bank Dunia Ajay Banga memperingatkan konflik di Timur Tengah dapat menimbulkan efek domino terhadap ekonomi global, bahkan jika gencatan senjata yang rapuh antara Amerika Serikat dan Iran diterapkan. Ia mengatakan, apabila negosiasi antara pihak-pihak di Pakistan gagal dan konflik meningkat, dampaknya diperkirakan jauh lebih berat.
Banga memaparkan, pertumbuhan ekonomi global dapat turun sekitar 0,3–0,4 poin persentase jika konflik di Timur Tengah berakhir lebih awal, dan dapat mencapai penurunan hingga 1 poin persentase apabila konflik berlanjut. Dari sisi harga, inflasi diperkirakan dapat meningkat 200–300 basis poin, dan bisa mencapai 900 basis poin jika konflik berlanjut.
Bank Dunia juga memperkirakan pertumbuhan di pasar negara berkembang dan ekonomi berkembang dapat mencapai 3,65% pada 2026, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya sebesar 4%. Dalam skenario terburuk, pertumbuhan disebut bisa turun menjadi 2,6% dengan inflasi meningkat hingga 6,7%.
Menurut Bank Dunia, konflik di Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga minyak secara tajam akibat gangguan pasokan minyak dan gas. Dampaknya turut merembet ke sejumlah sektor, termasuk pupuk, helium, pariwisata, dan penerbangan.
Dalam situasi tersebut, Banga menekankan pentingnya diversifikasi sumber energi dan peningkatan kemandirian. Ia menyebut Bank Dunia bekerja sama dengan Nigeria dan Mozambik untuk memperluas produksi energi, termasuk penyulingan minyak, gas alam, tenaga air, dan tenaga nuklir, dengan tujuan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar tradisional serta meningkatkan swasembada energi.