Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) berencana membangun dua fasilitas perbaikan kapal untuk mendukung kapal-kapal kecil yang dioperasikan Filipina di wilayah barat negara tersebut. Salah satu fasilitas yang diusulkan disebut berada di perairan sekitar 240 kilometer di sebelah timur Second Thomas Shoal, terumbu karang yang disengketakan di Laut China Selatan.
Second Thomas Shoal, yang berada di gugusan Kepulauan Spratly, menjadi lokasi penempatan detasemen kecil pasukan Filipina di atas kapal angkatan laut yang kandas. Area itu juga kerap menjadi titik bentrokan dengan kapal-kapal China.
Beijing diketahui mengklaim hampir seluruh jalur perairan strategis di Laut China Selatan, meskipun terdapat putusan internasional yang menyatakan klaim tersebut tidak berdasar.
Dokumen di situs kontrak pemerintah AS, Sam.gov, menempatkan salah satu fasilitas perbaikan kapal yang diusulkan di wilayah Quezon, Provinsi Palawan, Filipina. Dalam pemberitahuan lelang proyek Quezon, fasilitas tersebut disebut akan menyediakan kemampuan perbaikan dan pemeliharaan untuk berbagai kapal Filipina, termasuk kapal air berukuran 7,32 meter serta kapal konvensional lain yang lebih kecil.
Filipina memiliki sejumlah kapal berukuran tersebut, termasuk perahu karet berlambung kaku (RHIB) yang disebut pernah terlibat bentrokan dengan kapal-kapal China yang berukuran lebih besar.
Meski diyakini tidak terdapat fasilitas militer permanen di Quezon, wilayah itu telah menjadi lokasi sebagian latihan militer gabungan AS-Filipina dalam dua tahun terakhir.
Kedutaan Besar AS di Manila pada Rabu (16/7/2025) mengonfirmasi adanya tender untuk proyek Quezon serta proyek serupa yang akan dibangun di fasilitas angkatan laut Oyster Bay milik Filipina yang sudah ada, sekitar 130 kilometer di bagian utara.
Hingga laporan ini disampaikan, pejabat Departemen Pertahanan Filipina belum segera memberikan komentar.
Pensiunan Laksamana Filipina Rommel Jude Ong, yang kini menjadi analis militer di Universitas Ateneo de Manila, menilai fasilitas tersebut dapat digunakan untuk RHIB, namun kemungkinan besar juga untuk perahu karet yang lebih kecil yang digunakan dalam misi pasokan ulang ke wilayah yang diduduki.
Rencana pembangunan fasilitas ini muncul di tengah pendalaman kerja sama pertahanan Filipina dan AS sejak Presiden Ferdinand Marcos Jr menjabat pada 2022, seiring langkah Manila menepis klaim luas China di Laut China Selatan.

