BERITA TERKINI
AS dan Sekutu Eropa Bertemu Rusia di NATO, Bahas Upaya Redakan Ketegangan Ukraina

AS dan Sekutu Eropa Bertemu Rusia di NATO, Bahas Upaya Redakan Ketegangan Ukraina

Amerika Serikat bersama sekutu-sekutu Eropanya dijadwalkan bertemu dengan utusan Rusia di markas NATO, Brussels, pada Rabu (12/01), untuk membahas langkah meredakan ketegangan di perbatasan Ukraina. Pertemuan ini digelar di tengah kekhawatiran meningkatnya risiko konfrontasi militer setelah Rusia menumpuk pasukan dalam jumlah besar di sekitar Ukraina, yang sebagian wilayahnya telah diduduki.

Dialog di NATO ini menjadi kelanjutan dari pertemuan AS-Rusia di Jenewa pada Senin (10/01) yang berlangsung lebih dari tujuh jam namun belum menghasilkan terobosan. Meski demikian, kedua pihak menyatakan bersedia melanjutkan pembicaraan.

Menjelang pertemuan di Brussels, Wakil Menteri Luar Negeri AS Wendy Sherman mengadakan konsultasi dengan sekutu Barat. Sejumlah negara sekutu sebelumnya menyuarakan kekhawatiran dapat dikesampingkan dalam proses diplomasi yang melibatkan Washington dan Moskow.

Juru bicara Gedung Putih Jen Psaki pada Selasa (11/01) mengatakan masih terlalu dini untuk menilai apakah Rusia benar-benar serius menempuh jalur diplomasi. “Terlalu dini untuk mengatakan apakah Rusia serius tentang jalan menuju diplomasi atau tidak, atau jika mereka siap untuk bernegosiasi secara serius - kami serius,” ujarnya.

Dari pihak Ukraina, Presiden Volodymyr Zelensky pada Selasa (11/01) kembali meminta Prancis dan Jerman menjadi tuan rumah pertemuan puncak internasional baru antara Moskow dan Kyiv untuk mengakhiri konflik. Kepresidenan Prancis menyatakan Kremlin telah menyetujui Prancis, Jerman, Rusia, dan Ukraina untuk menggelar pembicaraan semacam itu “pada akhir Januari”.

Juru bicara Zelensky, Sergiy Nykyforov, menyambut baik “niat dan upaya Amerika Serikat dan Rusia, serta NATO dan Rusia untuk mengurangi ketegangan dan menyelesaikan semua masalah bersama di meja perundingan.” Sementara itu, Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba menegaskan “persatuan” menjadi kunci menghadapi apa yang ia sebut sebagai “ultimatum Rusia”.

Pada Selasa (11/01), Sherman menegaskan komitmen Washington untuk bekerja bersama sekutu dan mitra. Ia mengatakan Amerika Serikat berkomitmen mendesak de-eskalasi dan merespons krisis keamanan yang disebabkan oleh Rusia.

Dalam pertemuan NATO-Rusia, Moskow akan diwakili Wakil Menteri Luar Negeri Alexander Grushko. Ia menggambarkan pertemuan tersebut sebagai “momen kebenaran” dalam hubungan Rusia-NATO. Salah satu tuntutan utama Moskow adalah jaminan bahwa Ukraina tidak akan diizinkan bergabung dengan NATO.

Negara-negara sekutu NATO menegaskan kembali bahwa keanggotaan merupakan keputusan negara berdaulat, dan pada Selasa (11/01) kembali menyatakan akan mempertahankan kebijakan pintu terbuka. Mereka juga mengancam sanksi ekonomi dan keuangan besar-besaran terhadap Moskow jika penumpukan pasukan di perbatasan Ukraina dan di Krimea yang diduduki Rusia berubah menjadi invasi baru.

Sherman mengatakan Rusia tidak memberikan bukti bahwa mereka tidak akan menyerang, maupun penjelasan mengenai pengerahan sekitar 100.000 tentara ke perbatasan Ukraina. Namun, ia menyebut adanya tawaran langkah de-eskalasi terbatas, termasuk kemungkinan kesepakatan timbal balik terkait pembatasan baterai dan latihan rudal.

Duta Besar AS yang baru untuk NATO, Julianne Smith, mengatakan pembicaraan dapat mencakup “pembatasan timbal balik pada latihan.” Ia menyebut tema umum pertemuan Rabu (12/01) meliputi pengurangan risiko, transparansi, kontrol senjata, serta berbagai cara komunikasi antar pihak.

Rusia telah menekan Ukraina sejak 2014, setelah revolusi menggulingkan pemerintahan yang berpihak pada Kremlin. Rusia merebut dan mencaplok Krimea, serta mendukung pemberontakan di Ukraina timur yang telah menewaskan lebih dari 13.000 orang.