Hubungan Amerika Serikat (AS) dan China yang sempat memanas mulai menunjukkan tanda-tanda mencair. Pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Busan, Korea Selatan, pada Kamis (30/10), disebut menjadi titik damai baru setelah periode perang dagang yang berkepanjangan.
Dalam pertemuan itu, kedua pemimpin menyepakati penurunan tarif impor dan mencari penyelesaian atas isu logam tanah jarang (LTJ) yang selama ini menjadi salah satu sumber ketegangan.
Salah satu topik yang menonjol dalam pembicaraan adalah kelanjutan nasib TikTok. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan China telah menyetujui transfer kepemilikan aplikasi video pendek tersebut dari ByteDance ke entitas di AS. Menurut Bessent, kesepakatan itu telah dirampungkan dalam pertemuan di Kuala Lumpur sebelum kemudian dikukuhkan dalam pertemuan di Busan.
Bessent mengatakan proses transisi TikTok akan difinalisasi dalam beberapa pekan ke depan, meski ia belum merinci isi kesepakatan tersebut. Dari pihak China, Kementerian Perdagangan menyampaikan bahwa isu TikTok akan ditangani “dengan semestinya,” yang dipandang sebagai sinyal pendekatan diplomatik yang lebih tenang dari Beijing.
TikTok menjadi perhatian di AS sejak Kongres mengesahkan aturan pada 2024 yang mewajibkan ByteDance menjual asetnya di AS. Trump kemudian memperpanjang batas waktu penjualan hingga Januari 2026 dan menetapkan agar algoritma TikTok berada di bawah kendali mitra keamanan AS. Dalam struktur baru yang dibahas, ByteDance disebut hanya akan memegang kurang dari 20% saham.
Meski kekhawatiran mengenai keamanan data masih ada, kesepakatan ini dinilai sebagai langkah penting untuk meredakan ketegangan. Jika berjalan sesuai rencana, TikTok berpotensi menjadi simbol baru bahwa dialog dapat membuka jalan keluar dari perseteruan antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia.

