BERITA TERKINI
Ancaman Tarif Baru AS Berisiko Ganggu Gencatan Dagang Trump-Xi, di Tengah Isu Minyak Iran

Ancaman Tarif Baru AS Berisiko Ganggu Gencatan Dagang Trump-Xi, di Tengah Isu Minyak Iran

Gencatan dalam sengketa perdagangan antara Presiden AS Donald Trump dan pemimpin China Xi Jinping yang dicapai dalam pertemuan di Korea Selatan pada Oktober kini menghadapi risiko terganggu, seiring munculnya ancaman tarif tambahan dari AS. Kesepakatan tersebut antara lain memberi AS akses ke logam tanah jarang, sementara China selama perselisihan sempat memberlakukan pembatasan ekspor atas mineral kritis yang penting bagi pembuatan produk teknologi dan persenjataan.

Menurut Bloomberg Economics, rata-rata tarif AS atas barang-barang China turun menjadi 30,8% dari 40,8% setelah gencatan pada Oktober. Namun, ancaman tarif tambahan dinilai dapat menggagalkan kesepakatan itu, tepat ketika Trump merencanakan kunjungan ke Beijing pada April.

Pada Agustus tahun lalu, penasihat Gedung Putih Peter Navarro sempat meremehkan gagasan mengenakan tarif tambahan terhadap China terkait pembelian minyak Rusia. Saat itu, Navarro menyatakan AS sudah menerapkan tarif lebih dari 50% pada China dan memperingatkan agar kebijakan tidak sampai merugikan kepentingan AS sendiri.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Perdagangan China belum menanggapi permintaan komentar pada Selasa (13/1/2026).

Di luar isu tarif, Iran tetap menjadi salah satu titik konflik dalam hubungan AS-China. Kedua negara mengambil sikap berlawanan dalam konflik Timur Tengah: Washington telah lama mendukung Israel dan Arab Saudi, sedangkan Beijing mendekati Iran dan disebut menjadi jalur kehidupan bagi ekonomi Teheran dengan menyerap hampir 90% pengiriman minyak negara tersebut.

Pada September, Xi bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian di Beijing dan berjanji akan memperkuat hubungan perdagangan dan investasi.

Meski China belum secara resmi membeli minyak mentah Iran sejak Juni 2022, data pihak ketiga dan informasi pedagang menunjukkan aliran minyak tetap kuat meski ada sanksi AS. Hal ini dikaitkan dengan terbentuknya rantai pasokan di luar kendali Barat yang mendukung impor lebih dari 1 juta barel per hari. Minyak mentah Iran yang dijual dengan diskon besar disebut penting bagi sektor penyulingan swasta China dan menjadi sumber bahan bakar krusial, dengan kargo biasanya disimpan di fasilitas penyimpanan lepas pantai saat tiba.

Hingga akhir Desember, berdasarkan data perusahaan analitik dan pelacakan kapal Kpler Ltd, volume minyak tersebut mencapai rekor tertinggi dalam dua setengah tahun terakhir, melampaui 50 juta barel.

Pemerintahan Trump juga memperbarui kampanye “tekanan maksimum” terhadap Iran, termasuk ancaman sanksi bagi pembeli minyak dan produk petrokimia Iran. Namun pada Juni, Trump disebut memberi lampu hijau kepada China untuk terus membeli minyak Iran. Pernyataan itu mengejutkan pedagang minyak dan sebagian pejabat di pemerintahannya karena dinilai melemahkan kebijakan Washington pada era beberapa pemerintahan sebelumnya yang berupaya memotong sumber pendapatan utama Iran dengan membatasi ekspor minyaknya.

Data terbaru bea cukai China menunjukkan impor resmi dari Iran turun hampir 28% secara tahunan dalam 11 bulan pertama 2025 menjadi US$2,86 miliar. Barang impor utama meliputi bahan plastik seperti polietilen, logam seperti bijih besi dan bijih timah, serta bahan kimia seperti alkohol asiklik yang banyak digunakan sebagai pelarut industri dalam cat dan produk pembersih.

Dalam periode yang sama, ekspor China ke Iran menyusut hampir 23% menjadi US$6,2 miliar. Pengiriman utama mencakup kompresor pendingin dan AC, mobil, telepon, serta motor dan generator listrik. Secara keseluruhan, perdagangan dua arah dengan Iran disebut hanya menyumbang kurang dari 0,2% dari total perdagangan China.