Pasar keuangan global dinilai tengah mengabaikan ancaman besar dari lonjakan harga energi yang dipicu konflik di Timur Tengah. Sejumlah analis mengingatkan situasi ini dapat membuat perekonomian dunia seperti “sleepwalking” menuju resesi, ketika risiko membesar tanpa disadari pelaku pasar.
Amrita Sen, pendiri sekaligus direktur riset Energy Aspects, menilai optimisme investor saat ini tidak sejalan dengan realitas di pasar energi. Ia menyoroti kontras antara penguatan pasar saham dan kenaikan harga minyak yang tajam sejak pecahnya konflik AS-Iran pada akhir Februari.
Indeks S&P 500 sempat mencetak rekor intraday di level 7.230,12 pada 1 Mei, meski harga minyak telah melonjak lebih dari 50% sejak periode tersebut. “Ini menjadi teka-teki terbesar kami. Harga minyak seharusnya lebih tinggi dan pasar saham jauh lebih lemah,” kata Sen dalam acara Squawk Box Europe CNBC.
Sen memperingatkan pasar saat ini menunjukkan “euforia yang sangat keliru”. Menurutnya, sebagian investor menganggap krisis energi hanya akan berdampak pada Asia, bukan terhadap ekonomi global secara luas.
Di sisi pasokan, OPEC memang menyatakan akan meningkatkan produksi. Namun Sen menilai tambahan pasokan itu masih bersifat simbolis dan belum cukup untuk menutup gangguan suplai yang terjadi.
Perhatian pasar juga tertuju pada pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur penting distribusi energi global. Sen memperingatkan, bila gangguan berlangsung lama, dunia dapat dipaksa menurunkan konsumsi hingga setara level 2013, yakni sekitar 10 juta barel per hari lebih rendah dibanding konsumsi saat ini.
Ke depan, Sen memperkirakan harga minyak akan memiliki “lantai baru” di kisaran US$80–90 per barel. Menurutnya, dampak kenaikan energi tidak hanya terasa pada minyak, tetapi juga merembet ke berbagai sektor, termasuk LNG, industri kimia, dan pupuk.
Ia juga mengingatkan potensi lonjakan harga pangan sebagai efek lanjutan dari terbatasnya pasokan gas alam serta terganggunya distribusi pupuk seperti urea. “Ini adalah krisis energi besar-besaran. Saya terkejut pasar saham justru mengabaikannya dan fokus pada kinerja kuartal pertama. Kinerja kuartal kedua tidak akan sekuat itu,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan ekonom Morgan Stanley, Jens Eisenschmidt. Ia melihat tekanan mulai menyebar ke berbagai sektor, mulai dari maskapai hingga manufaktur, seiring dampak kenaikan biaya energi yang kian terasa.