Sejumlah analis dan perhitungan Reuters memperkirakan dunia kehilangan produksi minyak senilai sekitar Rp 860 triliun akibat perang Iran. Dampak lanjutan dari krisis tersebut dinilai tidak hanya bersifat jangka pendek, melainkan berpotensi terasa selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun ke depan.
Menurut perkiraan tersebut, gangguan produksi yang terjadi selama konflik dapat memicu efek berantai di pasar energi. Situasi ini diproyeksikan memengaruhi keseimbangan pasokan dan permintaan, sehingga tekanan di sektor minyak dikhawatirkan berlanjut dalam periode yang panjang.
Para analis menilai, pemulihan dari krisis minyak semacam ini biasanya membutuhkan waktu, terutama jika gangguan pasokan berlangsung signifikan. Karena itu, dampak yang ditimbulkan diperkirakan tidak segera mereda dan dapat terus dirasakan dalam jangka waktu lama.