YOGYAKARTA — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat, dinilai berpotensi memicu dampak luas bagi stabilitas global. Para akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) menilai situasi tersebut dapat berimbas pada dinamika diplomasi internasional, keamanan energi, hingga perekonomian dunia, sehingga Indonesia perlu mencermati perkembangannya dengan langkah diplomasi yang realistis sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Pandangan itu mengemuka dalam Diskusi Pojok Bulaksumur Edisi Maret 2026 bertema “Dampak Perang Timur Tengah bagi Hubungan Diplomatik, Ancaman Resesi Global, dan Kelangkaan Energi” yang digelar di kampus UGM pada Kamis (05/03/2026).
Guru Besar Hubungan Internasional Fisipol UGM Prof Siti Mutiah Setyawati menjelaskan, ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi konflik sejarah sejak akhir 1970-an.
Mutiah menyoroti salah satu peristiwa penting pada 1979, ketika mahasiswa Iran menduduki Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran dalam konteks Revolusi Islam Iran. Ia menjelaskan, dalam hukum internasional, kantor kedutaan memiliki hak ekstrateritorial yang membuatnya diperlakukan sebagai wilayah negara yang diwakilinya.
“Karena itu ketika kedutaan Amerika diduduki mahasiswa Iran, secara simbolik itu sama dengan menduduki wilayah Amerika Serikat,” kata Mutiah.
Ia menyebut peristiwa tersebut terjadi pada masa kepemimpinan Ali Khamenei, tokoh revolusi yang memperkenalkan sistem Republik Islam Iran. Dalam sistem itu terdapat konsep wilayat al-faqih, yakni kepemimpinan tertinggi yang memiliki otoritas besar dalam menentukan arah kebijakan negara.
Mutiah menjelaskan, meski Iran memiliki presiden dan struktur pemerintahan formal, keputusan strategis tetap berada di bawah otoritas pemimpin tertinggi. Setelah revolusi tersebut, Amerika Serikat menjatuhkan embargo ekonomi terhadap Iran yang disebutnya masih berlangsung hingga kini.
Embargo itu membuat Iran tidak memiliki hubungan perdagangan resmi dengan Amerika Serikat maupun sejumlah sekutu Barat. Namun, menurut Mutiah, Iran tetap mampu bertahan secara ekonomi melalui kerja sama dengan negara lain seperti China dan Rusia.
Ketegangan kedua negara, lanjutnya, juga dipengaruhi konflik di kawasan Timur Tengah, termasuk di Lebanon. Di negara tersebut, kelompok Hezbollah yang mendapat dukungan Iran pernah memaksa pasukan Amerika Serikat mundur dari wilayah tersebut.

