BERITA TERKINI
Airlangga: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11 Persen pada 2025, Termasuk Tertinggi di G20

Airlangga: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11 Persen pada 2025, Termasuk Tertinggi di G20

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,11 persen sepanjang 2025 di tengah tekanan ekonomi global yang dinilai semakin kompleks. Menurutnya, capaian tersebut melampaui rata-rata proyeksi pertumbuhan global yang berada di kisaran 2,6 hingga 3,3 persen berdasarkan perkiraan IMF, OECD, dan Bank Dunia.

Airlangga mengatakan pertumbuhan itu menempatkan Indonesia dalam jajaran negara dengan pertumbuhan tertinggi di antara anggota G20. Ia menjelaskan, fondasi pertumbuhan ditopang permintaan domestik, yang mencakup konsumsi rumah tangga, investasi, serta belanja pemerintah.

Dalam penjelasannya, konsumsi rumah tangga disebut berkontribusi sekitar 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Kondisi tersebut, kata Airlangga, tercermin dari Mandiri Spending Index yang berada di level 360,7.

Ia juga menyampaikan optimisme terhadap prospek pertumbuhan pada 2026. “Proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini di atas 5,3 persen. Dan pada kuartal pertama tahun ini, optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5,5 persen,” kata Airlangga, Selasa (14/4/2026).

Memasuki kuartal II 2026, Airlangga menilai sejumlah indikator makroekonomi masih berada dalam kondisi sehat. Ia menyebut inflasi terkendali, neraca perdagangan mencatat surplus selama 70 bulan berturut-turut, dan cadangan devisa tercatat sebesar 148,2 miliar dolar AS. Indeks manufaktur juga disebut masih berada di zona ekspansi dengan nilai 50,1.

Dari sisi eksternal, ekspor komoditas unggulan seperti batu bara, karet, nikel, tembaga, dan aluminium disebut mencapai 47 miliar dolar AS. Airlangga menilai kinerja ekspor tersebut menjadi bantalan terhadap tekanan di sektor migas.

Di sektor pangan, produksi beras nasional disebut mendekati 34,7 juta ton, dengan cadangan Bulog hampir menyentuh 4,6 juta ton yang disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah. Sementara pada sektor energi, program B50 disebut mendorong kemandirian dengan mencatatkan surplus energi sebesar 4,84 juta kiloliter.

Airlangga juga menyinggung peran fiskal dalam meredam gejolak ekonomi melalui berbagai stimulus, mulai dari bantuan pangan, subsidi energi, hingga diskon transportasi, dengan total nilai sekitar Rp11,92 triliun. Defisit APBN per Maret 2026 disebut terjaga pada level 0,93 persen terhadap PDB.

Selain itu, transaksi menggunakan mata uang lokal dilaporkan meningkat. “Transaksi mata uang lokal Indonesia tahun 2025 meningkat menjadi 25,6 miliar dolar AS. Angka ini dua kali lipat dibandingkan tahun 2024, dengan negara-negara seperti Malaysia, Korea Selatan, Thailand, Jepang, dan China yang sudah menerima transaksi pembayaran QRIS Indonesia,” ujar Airlangga, Selasa (14/4/2026).

Dari sisi sosial, Airlangga menyampaikan tingkat kemiskinan turun menjadi 8,25 persen, pengangguran menyusut menjadi 4,7 persen, dan rasio gini tercatat 0,363. Ia juga menyebut realisasi investasi sepanjang 2025 menyerap sekitar 2,71 juta tenaga kerja baru.

Pemerintah, lanjut Airlangga, mengakselerasi program hilirisasi yang menjadi prioritas Presiden Prabowo Subianto. Sepanjang 2025, investasi di sektor hilirisasi disebut mencapai Rp584,1 triliun atau setara 36,5 miliar dolar AS, tumbuh 43,3 persen secara tahunan dan menyumbang 30,2 persen dari total investasi nasional.

Untuk memperkuat iklim usaha, pemerintah membentuk Satgas Percepatan dan Penyelesaian Permasalahan Investasi (Satgas P2SP) serta melakukan reformasi regulasi melalui Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025, termasuk penyederhanaan perizinan berbasis risiko lewat sistem OSS-RBA.

Airlangga turut menegaskan daya tarik Indonesia bagi investor asing di sektor digital dan teknologi. “Indonesia memiliki lahan, harga energi yang kompetitif, dan energi bersih. Sebagian besar perusahaan AS, atau bahkan perusahaan regional termasuk China, berkomitmen untuk berinvestasi di pusat data Indonesia,” katanya.