JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan ekonomi Indonesia dinilai tetap tangguh di tengah ketidakpastian global dan kondisinya berbeda dibanding krisis 1998. Ia menyampaikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 mencapai 5,11 persen dan disebut menjadi yang tertinggi kedua di antara negara G20 setelah India.
Airlangga juga menyebut defisit anggaran Indonesia masih terjaga di bawah 3 persen, lebih rendah dibanding sejumlah negara besar seperti Amerika Serikat, Perancis, dan India. Dalam media briefing di Jakarta, Senin (13/4/2026), ia menyampaikan pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 di atas 5,3 persen, dengan optimisme pertumbuhan pada kuartal I 2026 sekitar 5,5 persen.
Menurut Airlangga, di tengah proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang berada di kisaran 2,6 persen hingga 3,3 persen berdasarkan perkiraan IMF dan Bank Dunia, Indonesia diperkirakan masih mampu tumbuh di atas 5 persen pada 2026. Ia menambahkan, laporan Bloomberg menempatkan peluang Indonesia mengalami resesi pada level rendah, sekitar 5 persen. Angka tersebut disebut lebih kecil dibanding Brasil dan China yang masing-masing 15 persen, serta Jepang dan Amerika Serikat yang mencapai 30 persen.
Airlangga menjelaskan, ketahanan ekonomi nasional ditopang oleh kuatnya permintaan domestik yang berkontribusi sekitar 54 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Selain itu, ketahanan pangan dan energi disebut menjadi faktor penting penopang stabilitas.
Di sektor pangan, ia menyatakan Indonesia telah mencapai swasembada beras sejak 2025 dengan produksi 34,7 juta ton. Cadangan beras Bulog per April 2026 disebut mencapai 4,6 juta ton, yang diklaim sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah.
Sementara di sektor energi, pemerintah mendorong penguatan melalui program biodiesel B50, pengembangan energi surya, serta peningkatan kapasitas kilang minyak.
Dari sisi fiskal, Airlangga mengatakan APBN tetap berperan sebagai peredam guncangan ekonomi. Pemerintah menyalurkan berbagai bantuan sosial sambil menjaga penerimaan negara tetap tumbuh. Hingga Maret 2026, penerimaan pajak tercatat Rp 462,7 triliun atau tumbuh 14,3 persen secara tahunan, dengan defisit yang disebut tetap terkendali.
Ia juga menyinggung posisi cadangan devisa Indonesia yang berada pada level aman. “Cadangan devisa masih sekitar 148,2 miliar dollar AS, itu setara dengan enam bulan impor,” kata Airlangga.
Indikator sosial ekonomi juga disebut menunjukkan perbaikan. Tingkat kemiskinan tercatat turun menjadi 8,25 persen, tingkat pengangguran menjadi 4,7 persen, serta rasio ketimpangan (gini ratio) menurun ke 0,363.
Adapun rasio utang pemerintah berada di level 40,46 persen terhadap PDB atau sekitar Rp 9.637,9 triliun. Airlangga menegaskan struktur utang yang didominasi domestik membuat risiko terhadap gejolak eksternal relatif terkendali. “Jika Anda melihat detail utang kita, sebagian besar berasal dari dalam negeri. Jadi, risiko guncangan eksternal terkendali,” ujarnya.