BERITA TERKINI
Airlangga: Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh di Tengah Perlambatan Global, Pertumbuhan 2025 Diproyeksikan 5,11%

Airlangga: Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh di Tengah Perlambatan Global, Pertumbuhan 2025 Diproyeksikan 5,11%

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan di tengah tantangan dan perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Mengacu pada data IMF, OECD, dan Bank Dunia, pertumbuhan ekonomi dunia berada di kisaran 2,6% hingga 3,3%, sementara Indonesia diproyeksikan dapat mencapai pertumbuhan 5,11% pada 2025 dan menjadi salah satu yang tertinggi di antara negara anggota G20.

Pernyataan itu disampaikan Airlangga dalam Media Briefing bertajuk Update on Economic and Reform Measures di Badan Komunikasi Pemerintah RI, Senin (13/4/2026). Ia menekankan, ketahanan ekonomi Indonesia ditopang permintaan domestik yang kuat, terutama dari konsumsi, investasi, dan belanja pemerintah, serta diperkuat stabilitas sektor eksternal, kebijakan yang disiplin, dan koordinasi kelembagaan.

Airlangga menjelaskan konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan dengan kontribusi 54% terhadap produk domestik bruto (PDB). Ia juga menyebut Mandiri Spending Index berada pada level kuat, yakni 360,7.

Di sektor pangan, produksi beras nasional tercatat hampir mencapai 34,7 juta ton, dengan stok cadangan beras Bulog mendekati 4,6 juta ton. Menurut Airlangga, angka tersebut menjadi salah satu cadangan beras terkuat yang pernah dimiliki Indonesia. Sementara di sektor energi, pemerintah memperkuat kemandirian melalui implementasi program B50 dan mencatat surplus energi sebesar 4,84 juta kiloliter.

“Proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini di atas 5,3%. Dan pada kuartal pertama tahun ini, optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5,5%,” kata Airlangga.

Memasuki triwulan II 2026, ia menilai perekonomian Indonesia berada dalam posisi kuat. Indikatornya antara lain inflasi yang terkendali, surplus neraca perdagangan yang berlangsung selama 70 bulan berturut-turut, serta tingkat kepercayaan konsumen yang tinggi. Dari sisi industri, sektor manufaktur masih berada pada fase ekspansi dengan indeks 50,1, sementara cadangan devisa tercatat sebesar USD148,2 miliar.

Airlangga juga menyebut sektor perbankan nasional tetap solid dengan rasio permodalan yang kuat dan risiko kredit yang terkendali. Pada sektor eksternal, kenaikan ekspor komoditas unggulan seperti batu bara, karet, nikel, tembaga, dan aluminium yang mencapai USD47 miliar disebut turut memberikan natural hedging terhadap tekanan dari sektor minyak dan gas.

Dari sisi fiskal, APBN dinilai tetap berfungsi sebagai bantalan ekonomi melalui penyaluran bantuan pangan, diskon transportasi, subsidi bahan bakar, dan kompensasi dengan nilai sekitar Rp11,92 triliun. Defisit APBN juga disebut terjaga rendah di level 0,93% terhadap PDB per Maret 2026.

Di bidang sistem pembayaran, Airlangga menyampaikan transaksi mata uang lokal Indonesia pada 2025 meningkat menjadi USD25,6 miliar, atau dua kali lipat dibandingkan 2024. Ia menambahkan sejumlah negara seperti Malaysia, Korea Selatan, Thailand, Jepang, dan China telah menerima transaksi pembayaran QRIS Indonesia.

Sejumlah indikator sosial ekonomi, menurut Airlangga, menunjukkan perbaikan. Tingkat kemiskinan disebut turun menjadi 8,25%, tingkat pengangguran menurun menjadi 4,7%, dan rasio gini turun menjadi 0,363. Ia juga menyampaikan realisasi investasi sepanjang 2025 mampu menyerap sekitar 2,71 juta tenaga kerja baru.

Airlangga turut menyoroti program hilirisasi yang didorong Presiden Prabowo Subianto. Pada 2025, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp584,1 triliun (USD36,5 miliar), tumbuh 43,3% secara tahunan, dan berkontribusi 30,2% terhadap total realisasi investasi 2025. Kontribusi terbesar berasal dari sektor mineral dan batu bara, disusul perkebunan dan kehutanan, serta minyak dan gas, perikanan, dan kelautan.

Untuk memperkuat kemudahan berusaha, pemerintah membentuk Satgas Percepatan dan Penyelesaian Permasalahan Investasi (Satgas P2SP) serta melakukan reformasi regulasi melalui Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025. Kebijakan itu diarahkan untuk penyederhanaan perizinan melalui penerapan SLA, penguatan kebijakan berbasis risiko, serta digitalisasi melalui OSS-RBA.

Selain itu, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) disebut terus menunjukkan kinerja positif sebagai motor investasi dan pertumbuhan sektor bernilai tambah. KEK berkembang pada sektor strategis seperti manufaktur maju, hilirisasi mineral, ekonomi digital, serta pariwisata dan kesehatan.

Dalam konteks kerja sama internasional, Airlangga menyampaikan adanya kemajuan sejumlah kerja sama ekonomi dan perdagangan, termasuk dengan Uni Eropa, Kanada, dan kawasan Eurasia, serta penguatan peran Indonesia di berbagai forum global seperti BRICS, G20, OECD, RCEP, ASEAN, dan CPTPP.

Dalam sesi diskusi, Airlangga menegaskan kebijakan subsidi energi tetap difokuskan untuk menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Di tengah fluktuasi harga minyak dunia, pemerintah disebut menyiapkan cadangan fiskal yang memadai sehingga kebijakan harga energi dapat dievaluasi secara berkala sesuai perkembangan global.

Di sektor investasi, ia menyatakan komitmen penanaman modal asing (FDI) menunjukkan tren positif, termasuk untuk proyek strategis di sektor energi, semikonduktor, dan pusat data. Airlangga menilai daya tarik investasi pusat data didukung oleh ketersediaan lahan, harga energi yang kompetitif, energi bersih, serta biaya air yang kompetitif. Ia juga menekankan besarnya pasar domestik dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa serta meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital seiring perkembangan AI dan komputasi kuantum.