Jakarta — Pemerintah menyatakan kondisi ekonomi Indonesia tetap tangguh di tengah ketidakpastian global dan dinilai jauh berbeda dibanding situasi krisis 1998. Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam media briefing di Jakarta, Senin (13/4/2026), sebagaimana dikutip Selasa (14/4/2026).
Airlangga menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 mencapai 5,11%, yang menurutnya menjadi tertinggi kedua di antara negara-negara G20 setelah India. Ia juga menyampaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini di atas 5,3% serta optimisme pertumbuhan pada kuartal I 2026 sekitar 5,5%.
Di sisi fiskal, defisit anggaran Indonesia disebut tetap terjaga di bawah 3% dan dinilai lebih rendah dibanding sejumlah negara besar seperti Amerika Serikat, Perancis, maupun India. Pemerintah juga menekankan peran APBN sebagai peredam guncangan ekonomi melalui penyaluran bantuan sosial dan upaya menjaga penerimaan negara tetap tumbuh.
Hingga Maret 2026, penerimaan pajak tercatat mencapai Rp 462,7 triliun atau tumbuh 14,3% secara tahunan, dengan defisit yang disebut tetap terkendali.
Dalam konteks global, Airlangga mengacu pada proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia yang berada di kisaran 2,6% hingga 3,3% menurut IMF dan Bank Dunia. Di tengah proyeksi tersebut, Indonesia diperkirakan masih mampu tumbuh di atas 5% pada 2026.
Airlangga juga menyampaikan bahwa berdasarkan laporan Bloomberg, peluang Indonesia mengalami resesi tergolong rendah, sekitar 5%. Angka itu disebut lebih kecil dibanding Brasil dan China yang masing-masing 15%, serta Jepang dan Amerika Serikat yang mencapai 30%.
Menurutnya, ketahanan ekonomi nasional ditopang permintaan domestik yang berkontribusi sekitar 54% terhadap produk domestik bruto (PDB). Selain itu, ketahanan pangan dan energi turut disebut sebagai faktor penting penopang stabilitas.
Di sektor pangan, Airlangga mengatakan Indonesia telah mencapai swasembada beras sejak 2025 dengan produksi 34,7 juta ton. Ia juga menyebut cadangan beras Bulog per April 2026 mencapai 4,6 juta ton dan diklaim sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah.
Sementara di sektor energi, pemerintah mendorong penguatan melalui program biodiesel B50, pengembangan energi surya, serta peningkatan kapasitas kilang minyak.
Dari sisi eksternal, cadangan devisa Indonesia disebut berada pada level aman. Airlangga menyatakan cadangan devisa sekitar 148,2 miliar dolar AS, setara dengan enam bulan impor.
Sejumlah indikator sosial juga disampaikan membaik. Tingkat kemiskinan tercatat turun menjadi 8,25%, tingkat pengangguran menjadi 4,7%, serta rasio ketimpangan (gini ratio) menurun ke 0,363.
Adapun rasio utang pemerintah berada di level 40,46% terhadap PDB atau sekitar Rp 9.637,9 triliun. Airlangga menambahkan, struktur utang yang didominasi domestik membuat risiko terhadap gejolak eksternal relatif terkendali.