Pada 1 November 2023, “AI” yang merupakan singkatan dari Artificial Intelligence dipilih oleh penerbit kamus Collins di Inggris sebagai kata kunci tahun ini. Para pakar bahasa Collins menilai istilah tersebut mengalami peningkatan cakupan yang cepat dan menjadi salah satu topik diskusi utama sepanjang tahun, dengan penggunaan kata “AI” dilaporkan meningkat hingga empat kali lipat selama 2023.
Perhatian dunia terhadap kecerdasan buatan menguat seiring meluasnya penggunaan ChatGPT, perangkat lunak AI generatif milik OpenAI, yang dinilai menjadi tonggak dalam mengubah cara banyak orang memahami AI. Kemunculan ChatGPT, bersama layanan lain seperti Gemini dari Google DeepMind dan Grok AI yang dikaitkan dengan Elon Musk, disebut menandai awal era baru pemanfaatan AI terkait pengetahuan.
Di berbagai negara, AI generatif dan teknologi AI multitasking yang lebih canggih mulai dipandang memiliki potensi penerapan besar dalam pembangunan sosial-ekonomi. Sejumlah contoh yang disebut antara lain pemanfaatan AI di Malaysia untuk membantu petani membuat peta data penanaman dan meninjau produktivitas tanaman; penggunaan AI di sektor keuangan Israel untuk membentuk pola prediksi; serta pemanfaatan AI oleh pejabat pemerintah di Thailand untuk memeriksa pos-pos pembayaran pajak.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyatakan AI berpeluang menciptakan terobosan bagi pembangunan negara-negara apabila digunakan secara bertanggung jawab dan adil. Menurutnya, AI dapat mendorong aksi iklim dan mendukung upaya pencapaian 17 target pembangunan berkelanjutan pada 2030, namun manfaat itu bergantung pada penggunaan yang bertanggung jawab dan akses yang menjangkau semua pihak, termasuk negara berkembang yang paling membutuhkan teknologi tersebut.
Di tingkat global, AI juga mulai digelar untuk membangun pola prediksi wabah penyakit baru, diintegrasikan dalam layanan kesehatan, memprediksi gejolak iklim, serta membantu pengembangan jenis tanaman yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim. Upaya-upaya itu disebut terkait dengan gagasan membangun sistem pangan global baru yang lebih berkelanjutan.
Meski demikian, perkembangan AI yang cepat turut memunculkan kekhawatiran. Risiko yang disorot mencakup dampaknya terhadap keamanan nasional, stabilitas komunitas, hingga keselamatan manusia. Di pertengahan 2023, para CEO perusahaan AI terkemuka bersama ratusan peneliti dan pakar menandatangani sebuah pernyataan yang menekankan bahwa pengurangan bahaya dari AI perlu menjadi prioritas global, dan disamakan tingkat kedaruratannya dengan pencegahan perang nuklir. Elon Musk juga memperingatkan bahaya teknologi ini apabila tidak dikendalikan.
Seiring meningkatnya perhatian terhadap risiko, komunitas internasional mempercepat langkah pengendalian terhadap pengembangan dan penggunaan AI. Pada awal November, Inggris menjadi tuan rumah konferensi tingkat tinggi global pertama tentang keselamatan AI yang mengesahkan Pernyataan Bletchley. Pernyataan tersebut ditandatangani perwakilan dari 27 negara—termasuk Amerika Serikat, Tiongkok, dan Uni Eropa—yang berkomitmen mendorong tanggung jawab dan kerja sama internasional dalam penggunaan serta penelitian AI secara aman.
Langkah lain juga muncul pada 2023. Pada akhir Oktober, PBB mengumumkan pembentukan Badan Penasihat AI beranggotakan 39 orang yang terdiri dari direktur perusahaan, pejabat pemerintah, dan sarjana, dengan tugas menetapkan arah pengelolaan AI di tingkat global. Sementara itu, pada awal Desember, Uni Eropa mencapai kesepakatan politik terkait pasal-pasal dalam Rancangan Undang-Undang AI, yang disebut sebagai regulasi pertama dan paling lengkap mengenai AI di dunia.
Di tingkat nasional, Amerika Serikat dan Inggris membentuk institusi keselamatan AI untuk menilai dan menguji model-model baru guna mengidentifikasi berbagai risiko potensial. Tiongkok mengumumkan “Gagasan manajemen AI global” serta menetapkan sejumlah ketentuan sementara untuk teknologi AI generatif. Selain itu, lebih dari 50 kelompok dan organisasi riset—termasuk Meta, IBM, Intel, Sony, dan Dell—membentuk Koalisi AI untuk mendorong kerja sama yang lebih terbuka dan transparan dalam pengembangan teknologi tersebut.

