BERITA TERKINI
Usahid Gelar Bedah Buku “Reunifikasi Korea: Game Theory”, Bahas Diplomasi Strategis di Tengah Ketidakpastian Global

Usahid Gelar Bedah Buku “Reunifikasi Korea: Game Theory”, Bahas Diplomasi Strategis di Tengah Ketidakpastian Global

JAKARTA — Universitas Sahid (Usahid) melalui Program Pascasarjana menggelar bedah buku bertajuk Reunifikasi Korea: Game Theory – Diplomasi Strategis di Arena Anarkis Global pada Jumat, 6 Maret 2026. Kegiatan berlangsung di Kampus Pascasarjana Sahid Sudirman lantai 5, Jakarta.

Acara ini menjadi forum diskusi mengenai penerapan teori permainan (game theory) dalam dinamika geopolitik di Semenanjung Korea, terutama terkait prospek reunifikasi di tengah situasi global yang dinilai penuh ketidakpastian. Peserta yang hadir berasal dari kalangan akademisi, praktisi media, serta mahasiswa pascasarjana.

Pembukaan acara dilakukan oleh Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana Usahid Dr. Deasy Fajiyanti dan Ketua Program Doktor Ilmu Komunikasi (DIK) Usahid Dr. Prasetya Yoga Santoso. Kegiatan ini juga menghadirkan Ketua Forum Wartawan Kebangsaan Raja Parlindungan Pane.

Dalam sambutannya, Dr. Deasy menekankan pentingnya kajian interdisipliner untuk membangun pemahaman yang lebih mendalam mengenai komunikasi internasional. Sementara itu, Dr. Prasetya Yoga Santoso menyampaikan komitmen Usahid dalam memajukan studi komunikasi internasional serta mendorong kontribusi akademik terhadap diskursus dan kebijakan publik di Indonesia, dengan menekankan integrasi komunikasi, diplomasi, dan analisis strategis.

Penulis buku sekaligus pembicara kunci, Dr. Teguh Santosa—yang juga dikenal sebagai jurnalis senior dan Ketua Jaringan Media Studi Indonesia (JMSI)—memaparkan gagasan utama karyanya. Ia menjelaskan bahwa buku tersebut menganalisis reunifikasi Semenanjung Korea melalui lensa teori permainan, yakni model matematis untuk memprediksi keputusan rasional para aktor internasional dalam situasi non-kooperatif.

Dalam pemaparannya, Dr. Teguh memetakan Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, China, Rusia, dan Jepang sebagai “pemain” dalam skema permainan zero-sum maupun non-zero-sum. Salah satu model yang disorot adalah Prisoner’s Dilemma dalam konteks negosiasi nuklir Korea Utara.

Menurut penjelasan Dr. Teguh, buku tersebut mengilustrasikan bagaimana keputusan unilateral Korea Utara untuk mengembangkan senjata nuklir memunculkan keseimbangan Nash yang tidak stabil, ketika masing-masing pihak memilih strategi defensif untuk menghindari kerugian maksimal. “Reunifikasi bukan sekadar isu bilateral, melainkan permainan multilateral di arena anarkis global di mana tidak ada otoritas pusat,” ujar Dr. Teguh.

Diskusi dilanjutkan dengan pembahasan oleh Rachmat Hidayat, Direktur Antara sekaligus mahasiswa doktoral komunikasi Usahid angkatan 33. Rachmat mengaitkan isi buku dengan perspektif komunikasi strategis, termasuk bagaimana teori permainan dapat dipakai untuk memahami framing media dalam konteks propaganda Korea Utara dan narasi soft power Korea Selatan. “Teori permainan Dr. Teguh memberikan kerangka untuk memahami framing media dalam propaganda Korea Utara versus narasi soft power Korea Selatan,” katanya.