Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan melakukan pembicaraan telepon langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Senin malam, 9 Maret 2026. Percakapan yang disebut berlangsung selama beberapa jam itu membahas sejumlah isu strategis, dengan perhatian utama pada ketegangan yang terus berkembang di Timur Tengah, khususnya terkait Iran.
Menurut sumber-sumber diplomatik yang dikutip dalam laporan tersebut, Trump mengajukan sejumlah usulan yang ditujukan untuk mempercepat penyelesaian krisis yang melibatkan Iran. Dalam skema yang dibicarakan, Rusia disebut dipandang sebagai mediator potensial dalam proses negosiasi multilateral yang dinilai kompleks.
Laporan itu menyebutkan, konteks pembicaraan tidak terlepas dari meningkatnya eskalasi di sekitar Iran yang membuat situasi kian sensitif bagi kepentingan strategis berbagai negara. Trump digambarkan menawarkan sejumlah alternatif yang ia yakini dapat membuka jalan menuju resolusi damai, dengan pendekatan yang menekankan hasil konkret.
Rusia, sebagai salah satu aktor penting di kawasan, disebut diharapkan dapat mendorong para pihak terkait untuk bersedia duduk di meja perundingan tanpa prasyarat yang dianggap memberatkan. Sejumlah pengamat menilai langkah ini sebagai manuver diplomatik yang berani, mengingat hubungan Amerika Serikat dan Iran dilaporkan berada pada titik terendah selama bertahun-tahun.
Masih menurut laporan yang beredar, usulan Trump kepada Putin diyakini mencakup kemungkinan pembentukan zona penyangga (buffer zone), pembentukan komisi pengawas internasional, serta jaminan keamanan bersama. Namun, implementasi gagasan tersebut diperkirakan menghadapi tantangan besar karena kompleksitas kepentingan nasional, religius, dan ideologis di kawasan.
Hingga kini, pembicaraan tersebut disebut belum mendapat konfirmasi resmi dari kedua pihak. Meski demikian, informasi mengenai percakapan itu memicu spekulasi di kalangan analis geopolitik mengenai kemungkinan arah baru diplomasi Amerika Serikat di Timur Tengah, sekaligus memunculkan pertanyaan apakah Rusia akan mengambil peran mediator atau memilih tetap berada pada posisi yang lebih netral.

