Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, menyatakan Rusia tetap siap memasok minyak dan gas kepada Indonesia sesuai perjanjian yang telah disepakati, meski Rusia tengah menghadapi sanksi baru dari Uni Eropa. Tolchenov menegaskan Rusia memandang Indonesia sebagai mitra strategis dan menyebut komitmen pasokan energi tersebut tetap berjalan.
“Kami siap memasok minyak dan gas kepada teman-teman kami, dan Indonesia adalah salah satu teman dan mitra strategis kami. Jadi, kami mengikuti perjanjian-perjanjian ini,” kata Tolchenov usai pemutaran film “Russia’s History in Space” di Jakarta, Senin (4/5/2026) malam.
Pernyataan itu sejalan dengan rencana pemerintah Indonesia untuk mengimpor 150 juta barel minyak mentah dari Rusia secara bertahap hingga akhir 2026, sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional.
Tolchenov juga menyampaikan bahwa dalam pembahasan di Moskow yang melibatkan Presiden RI Prabowo Subianto dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, telah dicapai sejumlah kesepakatan. “Sekarang kita hanya perlu melihat bagaimana cara mengimplementasikan kesepakatan-kesepakatan tersebut,” ujarnya.
Terkait sanksi Uni Eropa, Tolchenov menyebut Rusia tidak melihatnya sebagai masalah. Ia mengatakan Rusia tetap dalam kondisi baik meski telah menghadapi sanksi dari Uni Eropa selama lebih dari 10 tahun. Ia juga menilai sanksi tersebut ilegal dan menyatakan bahwa hanya Dewan Keamanan PBB yang dapat menerapkan sanksi terhadap negara-negara berdaulat.
Uni Eropa pada 23 April mengumumkan paket sanksi baru terhadap Rusia yang mencakup 36 daftar baru di sektor energi Rusia, termasuk kegiatan hulu dan hilir seperti eksplorasi minyak, ekstraksi, penyulingan, dan transportasi. Dalam paket tersebut, dua pelabuhan Rusia di Murmansk dan Tuapse serta Terminal Minyak Karimun di Indonesia turut masuk daftar karena disebut terkait dengan penghindaran sanksi.
Di sisi Indonesia, Kementerian Luar Negeri RI pada 30 April menyatakan prioritas pemerintah adalah memastikan keamanan energi bagi masyarakat dengan bekerja sama dengan berbagai mitra, termasuk Amerika Serikat dan Rusia. “Di tengah kondisi geopolitik yang sangat dinamis saat ini, kita perlu mengamankan ketahanan energi sebagai kepentingan nasional yang sangat mendesak dan kita bekerja sama dengan berbagai mitra, termasuk Amerika Serikat dan Rusia,” kata juru bicara Kemlu RI, Vahd Nabyl A. Mulachela.
Senada, pada 2 Mei Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut minyak mentah dari Rusia yang segera masuk ke Indonesia merupakan bagian dari langkah menjaga ketahanan pasokan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global. Kebijakan itu juga disebut sebagai bagian dari realisasi komitmen impor minyak sebesar 150 juta barel dari Rusia yang dilakukan bertahap hingga akhir 2026.