Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Jumat (8/5). Rupiah berakhir di level Rp17.382 per dolar Amerika Serikat (AS), turun 49 poin dibanding penutupan sebelumnya.
Sebelumnya, rupiah sempat tercatat melemah 60 poin di level Rp17.359 per dolar AS. Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik, mulai dari memanasnya kembali konflik AS-Iran hingga kekhawatiran pasar terhadap posisi utang pemerintah Indonesia yang meningkat.
Dari sisi global, pasar disebut masih dibayangi ketidakpastian geopolitik setelah pertempuran antara AS dan Iran kembali pecah meski Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata tetap berlaku. Menurut Ibrahim, sempat muncul harapan kedua negara mendekati kesepakatan damai yang dapat membuka kembali Selat Hormuz secara penuh.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menjadi lintasan utama sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Namun, ketegangan kembali meningkat setelah Iran menuding AS melanggar gencatan senjata, sementara AS menyebut serangannya sebagai balasan atas tembakan Iran terhadap kapal angkatan lautnya.
Ibrahim menjelaskan, eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong pelaku pasar menghindari aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah. Situasi ini dinilai sensitif karena Selat Hormuz menjadi jalur vital perdagangan energi dunia, sehingga setiap peningkatan tensi cepat memicu kekhawatiran di pasar global.
Selain itu, rupiah juga tertekan oleh pernyataan sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) yang masih bernada hawkish. Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack menyebut suku bunga kemungkinan tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan. Presiden The Fed San Francisco Mary Daly menegaskan komitmen membawa inflasi kembali ke target 2 persen, sementara Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari menyatakan inflasi AS masih terlalu tinggi.
Menurut Ibrahim, pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa pemangkasan suku bunga AS belum akan terjadi dalam waktu dekat. Pasar juga menanti rilis data ketenagakerjaan AS pada malam hari. Jika hasilnya lebih kuat dari perkiraan, dolar AS berpotensi kembali menguat.
Dari dalam negeri, sentimen negatif disebut datang dari posisi utang pemerintah yang per 31 Maret 2026 mencapai Rp9.920,42 triliun atau setara 40,75 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut naik hampir 3 persen dibanding posisi Desember 2025 sebesar Rp9.637,9 triliun.