BERITA TERKINI
Sebuah Puisi Esai

Sebuah Puisi Esai

PELUKAN TERAKHIR SEORANG IBU
DI RUNTUHAN NUSA TENGGARA TIMUR

Oleh Denny JA

(Terinspirasi kisah nyata seorang ibu dan dua anaknya yang meninggal dalam gempa NTT, Agustus 2026. Sang ibu ditemukan dengan bayinya masih dalam pelukan. Maria, David, percakapan, dan detail kehidupan mereka dalam puisi ini adalah rekaan puitik.) (1)

-000-

Jauh sebelum bumi Flores membuka luka,
Maria menimang David di lengan.
“Tidurlah, anakku. Selama Ibu bernapas,
jika dunia mengusirmu dari seribu pintu,
di dada ini selalu ada satu pintu pulang.”

David belum mengenal kata.
Dunia baginya hanya lautan susu Ibu, dua lengan Ibu sebagai pantainya,
dan detak jantung di bawah telinga,
mercusuar yang berbisik: “Ibu di sini.”

Rumah mereka kecil di bawah langit Flores.
Atapnya menadah air mata hujan,
jendelanya mengambil sedikit curah matahari,
dindingnya retak oleh umur,
namun direkatkan doa-doa keluarga.

“Ibu, apakah rumah cuma dinding?”
tanya anak sulung pada suatu senja.
“Bukan,” Maria menggeleng dan tersenyum.
“Rumah adalah hati yang membuka pintu, bahkan ketika seluruh dunia menutupnya.”

-000-

Maria menidurkan David dengan lagu lama,
warisan ibunya yang tak tercatat dalam buku,
hanya diwariskan dari pelukan ke pelukan,
seperti cahaya yang berpindah dari lilin ke lilin
tanpa pernah kehilangan nyala.

David menggenggam telunjuk Maria.
Lima jarinya menjadi akar-akar kecil,
mencengkeram satu-satunya bumi yang dikenalnya,
seolah bila genggaman itu terlepas,
dunia akan hanyut entah ke mana.

“Kenapa David memegang Ibu terus?”
kakaknya bertanya sambil tersenyum.
“Barangkali dia takut Ibu hilang.”
Maria mencium tangan kecil itu.
“Tidak, Nak. Ibu tak akan ke mana-mana.”

Suatu malam demam datang menjadi api.
Maria berjaga sampai bintang-bintang padam,
menempelkan tangannya ke kening David,
karena telapak seorang ibu adalah jembatan tempat rasa sakit dapat menyeberang.

“Berikan demammu kepada Ibu, David.
Setengah saja,” bisiknya perlahan.
Lalu ia tersenyum dan menggeleng.
“Tidak. Semuanya saja.
Tubuh Ibu lebih besar untuk menanggungnya.”

Begitulah cinta seorang ibu:
sebuah percakapan rahasia dengan langit. Ia selalu menawarkan dirinya sebagai jaminan,
agar penderitaan salah alamat
dan mengetuk pintunya, bukan pintu anaknya.

-000-

Suatu malam petir mengaum.
David menangis, menjadi burung kecil yang sarangnya diguncang angin.
Maria mengangkat dan mendekapnya.

15 Agustus 2026.
Pagi belum selesai membuka mata.
Ayam baru mengirim suaranya ke bukit, ketika batu-batu purba di bawah Flores menggeser bahu mereka.

Lalu bumi menggeram.
Magnitudo 7,7.
Angka yang begitu pendek
untuk kesedihan begitu panjang,
satu angka, seribu retakan.

Gelas jatuh, jendela menjerit,
lantai menggeliat menjadi ombak.
Lemari bergeser, genting berjatuhan,
dan rumah yang selama ini tegak
mendadak lupa bagaimana berdiri.

“Ibu!”
Suara anak menembus gemuruh.
Maria berlari tanpa sempat mengambil apa pun.
Sebab ketika maut masuk ke rumah,
harta tiba-tiba kehilangan harga.

Tak ada waktu memilih kenangan.
Hidup yang biasanya begitu rumit
mendadak menyisakan satu pertanyaan:
siapa yang harus kuselamatkan?

-000-

Lalu terdengar tangisan David.
Tipis, kecil, nyaris tenggelam
di antara gemuruh bumi dan manusia.
Tetapi telinga seorang ibu
selalu mengenali suara anaknya.

“David!”

Maria meraih tubuh kecil itu,
menekannya erat ke dada.
“Jangan takut, Sayang.
Ibu di sini.”

Lalu rumah mengerang.
Kayu patah, dinding retak,
atap bergoyang seperti langit
yang kelelahan memikul dunia
dan hendak menjatuhkannya.

Mungkin waktu tinggal beberapa detik.
Terlalu pendek untuk melarikan diri,
tetapi cukup panjang bagi cinta
untuk menjawab pertanyaan tertua:
siapa yang lebih kupilih hidup?

-000-

Maria membungkuk di atas David.
Lengannya menjadi pagar,
punggungnya menjadi dinding,
dadanya menjadi rumah terakhir,
tubuhnya menjadi doa.

“Kalau harus ada yang kau timpa,
timpa aku,” katanya kepada batu.
“Kalau maut mencari anakku,
ia harus melewati tubuhku
lebih dahulu.”

Lalu rumah itu runtuh.
Debu naik seperti ribuan doa
yang kehilangan alamat Tuhan.
Suara-suara tenggelam,
dan pagi berubah menjadi makam.

-000-

Berjam-jam kemudian mereka datang.
Tim penyelamat dan tangan-tangan warga
menggali batu, kayu, dan debu,
mencari kehidupan di antara benda-benda
yang beberapa jam lalu bernama rumah.

“Pelan-pelan,” seseorang berkata.
“Ada orang di bawah sini.”
Tangan-tangan menggali lebih hati-hati.
Lalu seseorang tiba-tiba berhenti,
seakan waktu ikut berhenti.

Seorang ibu ditemukan.
Bersamanya dua anak.
Salah satunya masih bayi,
terbaring di atas dada
yang dahulu memberinya kehidupan.

Satu tangan Maria masih merangkul David.
Jantung itu telah berhenti,
tetapi pelukannya belum.
Kematian hanya mengetahui
cara menghentikan darah, bukan cinta.

Mungkin penyelamat itu menunduk.
Sebab di hadapannya ada kematian,
namun yang paling tampak justru cinta: sebuah pelukan yang terlambat
diberi tahu bahwa hidup telah selesai.

-000-

Seorang aktivis bicara.
“Jangan salahkan bumi seluruhnya.
Bumi hanya bergerak menurut hukum purba.
Kita telah lama tahu Flores berdiri di atas luka,
tetapi masih membangun rumah seakan tanah telah berjanji tak akan bergerak.

Dan ketika tembok gagal menjadi pelindung,
punggung seorang ibu harus menjadi atap terakhir.

Gempa mungkin tak dapat kita larang datang,
tetapi kelalaian adalah bencana yang kita ciptakan sendiri:
alam mengguncang bumi, manusia menentukan siapa yang paling rapuh.”

Gempa menang melawan beton.
Ia mengalahkan kayu dan atap.
Ia mengubah rumah menjadi puing.
Tetapi gempa gagal mengajari
tangan seorang ibu melepaskan anak.

Ironisnya, rumah itu telah runtuh,
namun di bawah reruntuhannya
ditemukan sebuah rumah yang lain:
dua lengan yang melingkari bayi,
dan dada tempat ia terakhir berlindung.

Barangkali itulah kejutan cinta.
Kadang kita baru mengetahui
dimana rumah sebenarnya berada
setelah seluruh dinding
telah menjadi debu.

-000-

Lalu datanglah angka-angka.
111 manusia meninggal.
Kita menyebutnya statistik,
sebab angka tidak mempunyai mata
untuk menangis ketika dibaca.

Lebih dari 176 ribu orang mengungsi.
Tetapi angka tidak mengenal nama.
Ia tidak tahu siapa kehilangan ibu,
siapa kehilangan anak,
siapa kehilangan seluruh dunianya.

Statistik menghitung rumah yang runtuh,
tetapi siapa menghitung dongeng
yang tak selesai sebelum tidur?
Siapa menghitung piring yang tersisa di meja makan untuk seseorang yang tiada?

Angka mengetahui jumlah kematian.
Tetapi angka tak pernah memahami kehilangan.
Sebab bagi dunia, satu manusia
mungkin hanya angka satu,
bagi seseorang ia seluruh dunia.

-000-

Malam berikutnya datang ke Flores.
Bulan kembali menggantung seperti biasa.
Langit tidak mengetahui
di bawahnya ada keluarga-keluarga
yang tak akan pernah sama.

Di pengungsian, anak-anak tertidur
di bawah atap yang bukan rumah mereka.
Ada yang terbangun dan bertanya,
“Ibu, apakah bumi akan marah lagi?”
Tak semua ibu masih dapat menjawab.

Sebab gempa sesungguhnya tidak selesai ketika tanah berhenti bergerak.
Ia pindah dari bumi ke ingatan,
bersembunyi dalam bunyi pintu,
dan mengguncang manusia dari dalam.

-000-

Kelak jika seorang anak bertanya:
“Di manakah rumah terkuat di dunia?”
Jangan tunjuk gedung pencakar langit,
benteng baja, atau tembok
yang dibangun untuk menantang zaman.

Ceritakan saja tentang pagi di Flores.
Tentang sebuah rumah yang runtuh.
Tentang seorang ibu yang membungkuk
di atas tubuh kecil anaknya
ketika dunia kehilangan keseimbangan.

Kisah ketika atap telah menjadi debu, ketika dinding telah menjadi puing,
ketika dunia tak lagi punya tempat aman, rumah terakhir seorang anak
adalah pelukan ibunya.***

Jakarta, 29 Agustus 2029

CATATAN KAKI

(1) Kisah Ibu ditemukan wafat bersama bayi dan anak perempuannya di bencana Flores 2026 dapat dibaca di link:

Ibu dan Anak Ditemukan Tewas di Reruntuhan Bangunan Terdampak Gempa NTT | JATENGPOS.CO.ID