Ada kabar yang membuat publik Indonesia menoleh jauh ke Beijing.
Pertemuan Vladimir Putin dan Xi Jinping kembali menjadi tren, karena ia terasa seperti potret dunia yang sedang mengeras.
Di tengah perang Rusia-Ukraina, dan setelah kunjungan Presiden AS Donald Trump ke China, panggung diplomasi tampak seperti papan catur yang dipenuhi langkah tersirat.
Orang mencari jawaban sederhana.
Apakah Rusia dan China benar-benar satu barisan, atau hanya saling memanfaatkan untuk bertahan?
-000-
Mengapa isu ini menjadi tren di Indonesia
Pertama, karena pertemuan ini terjadi berdekatan dengan kunjungan Trump ke Beijing.
Urutan peristiwa itu membuat banyak orang membaca sinyal, bukan sekadar berita.
Kedua, karena perang Rusia di Ukraina belum mereda, dan dunia menunggu siapa yang bisa mengubah keseimbangan.
China dipandang punya pengaruh ekonomi yang dapat memperpanjang, atau justru mengerem, kemampuan Rusia.
Ketiga, karena retorika anti-hegemoni kembali menguat.
Ketika Putin dan Xi menyinggung penolakan terhadap hegemoni sepihak, publik menangkap gema persaingan besar yang dampaknya bisa merembet ke harga energi dan ketegangan global.
-000-
Kunjungan yang tampak megah, hasil yang tidak sepenuhnya baru
Putin melakukan kunjungan tahunan ke China, salah satu dari sedikit lawatan luar negerinya dalam lima tahun sejak invasi ke Ukraina dimulai.
Ia datang dengan delegasi besar.
Namun sorotan utama tertuju pada pertemuannya dengan Xi, terutama karena dunia baru saja melihat Trump bertemu Beijing beberapa hari sebelumnya.
Para ahli yang diwawancarai Deutsche Welle menilai, tidak ada perubahan signifikan dalam hubungan bilateral.
Di atas meja, keduanya menegaskan kemitraan strategis dan persahabatan tanpa batas.
Mereka menandatangani lebih dari 20 perjanjian kerja sama, termasuk terkait kecerdasan buatan dan isu energi.
Namun di bawah permukaan, ada satu hal yang justru menonjol karena tidak terjadi.
-000-
Pipa gas yang tak kunjung disepakati, dan batas “persahabatan tanpa batas”
Harapan utama Rusia, yaitu penyelesaian proyek energi Power of Siberia 2, kembali tidak terwujud.
Sren Urbansky, Profesor Sejarah Eropa Timur di Ruhr-Universität Bochum, menilai negosiasi proyek itu sudah lama berjalan.
China tetap memegang kendali.
Setelah kunjungan, perwakilan Rusia menyebut kedua pihak hampir mencapai kesepakatan, tetapi detailnya belum final.
Power of Siberia 2 digadang memasok hingga 50 juta meter kubik gas per tahun.
Pipanya direncanakan sepanjang 4.000 kilometer, dari Siberia Barat melintasi Mongolia menuju China.
Kapasitas itu disebut sebanding dengan Nord Stream dari Rusia ke Jerman yang melintasi Laut Baltik.
Nord Stream telah dihentikan Rusia sebelum invasi ke Ukraina.
Pada 2022, pipa itu meledak akibat aksi yang diduga sabotase.
Rusia sudah punya pipa lain.
Proyek Kraft Sibiriens diluncurkan 2019, menyalurkan gas Siberia Timur melalui pipa pertama yang sudah ada, salah satunya menuju China.
Dalam negosiasi Power of Siberia 2, Urbansky menekankan isu harga dan ketentuan kontrak tetap kontroversial.
Ia menyebut posisi tawar China jelas lebih kuat.
James Brown, dosen di Temple University America di Tokyo, sependapat.
Menurutnya, masalah di Selat Hormuz bersifat sementara, sementara pipa baru diperkirakan beroperasi jelang akhir dekade ini.
Brown menilai China akan kurang bijak jika cepat mengikat diri pada pasokan energi Rusia selama bertahun-tahun.
Di titik ini, persahabatan tanpa batas terdengar lebih seperti slogan politik.
Sebab pada isu vital seperti energi, kepentingan nasional menjadi penentu.
China, dalam penilaian para ahli, tidak bersedia “menghadiahi” persetujuan itu kepada Rusia.
-000-
Retorika terhadap AS mengeras, bahkan setelah kunjungan Trump
Bagian lain yang mencolok adalah retorika tajam terhadap Amerika Serikat.
Brown mengingatkan, setelah kunjungan Trump ke Beijing, sempat ada harapan nada China akan lebih moderat.
Yang terjadi justru sebaliknya.
Dalam pernyataan bersama, kritik terhadap AS tidak selalu dirumuskan secara langsung.
Namun, menurut Brown, kritik itu banyak dilontarkan.
Putin dan Xi menentang hegemoni sepihak dunia.
Putin bahkan mengutip Mao Zedong tentang imperialisme Amerika.
Di sini, diplomasi bekerja dengan dua bahasa.
Bahasa dokumen resmi yang rapi, dan bahasa simbol yang sengaja dikeraskan agar terdengar ke seluruh dunia.
-000-
China dan perang Ukraina: netralitas pro-Rusia yang diperdebatkan
Eropa membahas dampak pertemuan Putin-Xi terhadap perang Rusia melawan Ukraina.
Posisi China kerap digambarkan sebagai netralitas pro-Rusia.
Secara formal, China berada di luar konflik.
Namun para ahli menyebut, China mendukung Rusia dengan membeli sumber daya energi Rusia.
China juga memasok barang-barang penggunaan ganda.
Barang ini bisa dipakai untuk kebutuhan sipil maupun militer.
Urbansky memperkirakan pola itu tidak akan berubah.
Ia menyebut, secara de-facto, China mengisi kas perang Rusia melalui impor bahan baku.
Ia juga menyebut ekspor semikonduktor serta barang ganda memungkinkan Rusia melanjutkan perang.
Namun Urbansky juga mengakui argumen China.
Jika Beijing benar-benar mendukung Moskow sepenuhnya, Rusia mungkin sudah lama memenangkan perang.
Dukungan itu tidak maksimal.
Tetapi China bisa menghentikannya, dan jika itu terjadi, posisi Rusia akan jauh lebih rentan.
Brown menilai China tampak cukup puas dengan status quo.
Rusia tidak menang, tetapi juga tidak kalah.
Namun, jika Rusia berada di ambang kekalahan, Brown memperkirakan China bisa memperluas dukungan.
Di titik itu, China dapat bergeser dari netralitas pro-Rusia ke dukungan yang lebih langsung.
-000-
“Rusia menentukan, China mengikuti”: pembacaan dari Kyiv
Di Kyiv, ketergantungan Rusia terhadap China dinilai semakin meningkat.
Penilaian itu datang dari Natalija Plaksijenko-Butyrska, pakar Asia asal Ukraina.
Ia menekankan negosiasi tertutup sangat menentukan.
Hasilnya akan terlihat dari langkah Rusia selanjutnya.
Menurutnya, eskalasi berarti Putin akan melanjutkan perang melawan Ukraina.
Ia memperkirakan China tidak akan menekan Rusia untuk mengakhiri perang.
China, menurutnya, baru akan aktif terlibat jika Moskow bersedia bernegosiasi.
Itu pun jika Rusia tertekan, misalnya di bawah serangan Ukraina terhadap wilayahnya.
-000-
Kaitannya dengan isu besar bagi Indonesia: energi, perdagangan, dan tatanan dunia
Bagi Indonesia, berita ini bukan sekadar drama pemimpin besar.
Ia menyentuh pertanyaan yang lebih dekat: bagaimana dunia mempengaruhi dapur, industri, dan ruang kebijakan negara berkembang.
Pertama, isu energi.
Ketika Rusia mencari pasar, dan China menawar dengan posisi kuat, arsitektur pasokan energi global berubah.
Perubahan arus energi dapat mempengaruhi persepsi risiko, volatilitas, dan strategi diversifikasi banyak negara.
Kedua, isu perdagangan dan teknologi.
Perjanjian terkait kecerdasan buatan menunjukkan kompetisi teknologi tidak lagi berdiri sendiri.
Ia menempel pada politik luar negeri, keamanan, dan blok-blok ekonomi.
Ketiga, isu tatanan global.
Retorika anti-hegemoni mengingatkan bahwa persaingan kekuatan besar bisa memecah aturan main.
Negara seperti Indonesia berkepentingan pada stabilitas, karena stabilitas adalah prasyarat pertumbuhan dan pemerataan.
-000-
Kerangka konseptual: asimetri ketergantungan dan diplomasi status quo
Pertemuan ini dapat dibaca melalui konsep asimetri ketergantungan.
Rusia membutuhkan pasar dan pemasukan energi.
China membutuhkan energi, tetapi punya lebih banyak pilihan, waktu, dan daya tawar.
Itu menjelaskan mengapa proyek Power of Siberia 2 tidak otomatis disepakati meski hubungan tampak akrab.
Pertemuan ini juga mencerminkan diplomasi status quo.
Brown menyebut China puas ketika Rusia tidak menang dan tidak kalah.
Status quo memberi Beijing ruang: cukup dekat untuk mendapat manfaat, cukup jauh untuk menghindari biaya reputasi dan risiko berlebihan.
Urbansky menambahkan dimensi lain.
Dukungan tidak maksimal, tetapi cukup untuk menjaga Rusia tetap bertahan.
Di ruang semacam ini, konflik bisa memanjang, bukan karena tak ada jalan keluar.
Melainkan karena beberapa aktor masih melihat manfaat relatif dari waktu yang berjalan.
-000-
Riset dan bacaan relevan untuk memperdalam pemahaman
Untuk memahami isu ini secara lebih intelektual, publik perlu menengok riset tentang ketergantungan ekonomi dan daya tawar.
Literatur hubungan internasional kerap membahas bagaimana perdagangan dan energi menciptakan leverage.
Dalam kasus ini, para ahli DW menegaskan leverage itu berada pada China, terutama soal harga dan ketentuan kontrak.
Riset tentang barang penggunaan ganda juga relevan.
Perdebatan bukan hanya tentang senjata, tetapi tentang rantai pasok semikonduktor dan komponen yang bisa bergeser fungsi.
Urbansky menyebut ekspor semikonduktor dan barang ganda membantu Rusia melanjutkan perang.
Ada pula riset tentang strategi “ambiguity” dalam diplomasi.
China tampil sebagai perantara netral secara terbuka, tetapi dituduh memberi dukungan tidak langsung.
Ambiguitas semacam ini sering dipakai negara besar untuk menjaga fleksibilitas kebijakan.
-000-
Referensi kasus luar negeri yang menyerupai: kemitraan yang dibatasi kepentingan
Di luar negeri, sejarah mengenal kemitraan besar yang tampak solid tetapi dibatasi kepentingan.
Salah satu rujukan klasik adalah hubungan Amerika Serikat dan Arab Saudi dalam isu energi dan keamanan.
Keduanya sering terlihat saling membutuhkan, tetapi negosiasi harga, pasokan, dan kepentingan regional tetap membuat relasi bergerak naik turun.
Contoh lain adalah dinamika dalam hubungan negara-negara Eropa dengan Rusia sebelum perang Ukraina membesar.
Ketergantungan energi pernah menciptakan kedekatan ekonomi.
Namun ketika krisis datang, kalkulasi politik dapat membalikkan asumsi lama tentang “mitra yang pasti”.
Dua contoh itu mengajarkan satu hal.
Dalam politik global, kedekatan tidak menghapus transaksi, dan transaksi tidak selalu melahirkan kesetiaan.
-000-
Bagaimana sebaiknya isu ini ditanggapi di Indonesia
Pertama, publik perlu menahan godaan narasi hitam-putih.
Berita ini menunjukkan hubungan Rusia-China tidak hanya soal persahabatan, tetapi juga soal tawar-menawar, harga, dan waktu.
Kedua, Indonesia perlu memperkuat literasi geopolitik energi.
Isu pipa gas mungkin terasa jauh, tetapi perubahan arus energi global dapat mempengaruhi ketidakpastian ekonomi internasional.
Ketiga, Indonesia perlu menjaga prinsip kebijakan luar negeri yang berorientasi kepentingan nasional.
Retorika anti-hegemoni bisa memikat, tetapi yang lebih penting adalah kemampuan membaca dampak nyata pada perdagangan, investasi, dan stabilitas kawasan.
Keempat, ruang publik sebaiknya memberi tempat bagi analisis berbasis data.
Para ahli DW memberi contoh: melihat detail kontrak, posisi tawar, dan sifat dukungan, bukan hanya foto pertemuan dan kalimat persahabatan.
Kelima, empati kemanusiaan tidak boleh hilang.
Di balik istilah “status quo”, ada perang yang berlanjut, dan masyarakat sipil yang menanggung konsekuensi.
-000-
Penutup: dunia yang ditopang, dunia yang diuji
Pertemuan Putin dan Xi memperlihatkan dunia yang saling menopang, tetapi juga saling menguji.
Rusia membutuhkan sandaran.
China memilih menopang secukupnya, sambil memastikan pegangan kendali tetap di tangannya.
Sementara itu, Amerika Serikat hadir sebagai bayangan yang ikut membentuk nada dan arah.
Di antara tiga kekuatan itu, negara-negara lain membaca tanda, menghitung risiko, dan menimbang masa depan.
Bagi Indonesia, pelajarannya sederhana tetapi berat.
Dunia tidak bergerak karena slogan, melainkan karena kepentingan, daya tawar, dan keputusan yang sering dibuat di ruang tertutup.
Dan di saat ketegangan global menguat, ketenangan berpikir menjadi bentuk ketahanan.
“Kebijaksanaan dimulai ketika kita berani melihat kenyataan apa adanya, lalu memilih tindakan yang paling manusiawi.”

