Badan Keamanan Dalam Negeri Polandia (ABW) melaporkan adanya perubahan signifikan dalam strategi operasi rahasia Rusia di Eropa. Dalam laporan yang dirilis Rabu (7/5/2026), ABW menyebut Moskow kini tidak lagi mengandalkan perekrutan individu amatir melalui internet, melainkan mulai menggunakan jaringan kriminal profesional untuk menjalankan aksi sabotase dan spionase lintas negara.
ABW menilai intensitas operasi yang dikaitkan dengan Rusia meningkat sejak invasi ke Ukraina, dan menjadi bagian dari apa yang disebut sebagai “perang hibrida” terhadap negara-negara Barat. Aktivitas tersebut, menurut laporan itu, mencakup sabotase, pembakaran, vandalisme, operasi pengaruh, hingga kegiatan mata-mata di berbagai wilayah Eropa.
“Tujuan jangka panjang Federasi Rusia tetap sama, yakni menghancurkan struktur Euro-Atlantik, mengisolasi negara-negara tertentu, serta menciptakan destabilisasi sosial, politik, dan ekonomi di dalam negeri mereka,” tulis ABW dalam dokumennya.
Lembaga itu juga menggambarkan aktivitas intelijen Rusia kini semakin menyerupai operasi pasukan khusus, termasuk pengintaian dan sabotase berisiko tinggi. ABW menyatakan dalam dua tahun terakhir Polandia menangani jumlah penyelidikan spionase yang sama banyaknya dengan total investigasi selama tiga dekade sebelumnya. Sebanyak 62 orang dilaporkan telah ditangkap terkait aktivitas mata-mata.
Secara rinci, ABW menyebut sepanjang 2024 hingga 2025 terdapat 69 investigasi spionase baru, jumlah yang disebut setara dengan seluruh kasus pada periode 1991 hingga 2023.
Polandia menilai operasi Rusia merupakan bagian dari “perang tak diumumkan” terhadap dunia Barat. Selain Rusia, laporan itu turut menyinggung keterlibatan dinas rahasia Belarus yang disebut bekerja sangat dekat dengan Moskow. China juga disebut terkait beberapa aktivitas intelijen tertentu.
Salah satu poin utama dalam laporan ABW adalah perubahan pola operasi. Jika sebelumnya Rusia banyak menggunakan “agen sekali pakai” yang direkrut secara mendadak melalui internet, kini mereka disebut beralih membentuk sel sabotase yang lebih profesional. ABW menyatakan Rusia mulai mengandalkan struktur tertutup dari jaringan kriminal terorganisasi untuk menjalankan operasi-operasi sensitif di Eropa.
Menurut ABW, Rusia lebih memilih individu yang memiliki pengalaman di bidang penegakan hukum, seperti mantan tentara, polisi, atau tentara bayaran dari Grup Wagner. Laporan itu juga menuduh Rusia meningkatkan pelatihan agen di wilayahnya sendiri untuk mempersiapkan operasi yang mengarah pada aksi terorisme dan sabotase.
ABW menyebut operasi pengawasan massal yang dilakukan Rusia di Polandia bertujuan membangun fondasi bagi aksi pengalihan dan sabotase yang lebih besar. Dalam penilaian lembaga tersebut, intelijen Rusia juga mulai menerima kemungkinan jatuhnya korban jiwa dalam operasi mereka.
Ketegangan disebut meningkat setelah insiden pada November 2025 yang oleh Perdana Menteri Polandia Donald Tusk disebut sebagai “aksi sabotase yang belum pernah terjadi sebelumnya”. Pada saat itu terjadi ledakan dan gangguan teknis di jalur kereta yang digunakan untuk pengiriman bantuan ke Ukraina. Dua kereta terdampak, termasuk kereta penumpang, namun tidak ada korban jiwa.