BERITA TERKINI
Pidato Mojtaba Khamenei, Haji, dan Bahasa Kiamat Politik: Mengapa Dunia Menahan Napas

Pidato Mojtaba Khamenei, Haji, dan Bahasa Kiamat Politik: Mengapa Dunia Menahan Napas

Nama Mojtaba Khamenei mendadak melesat di pencarian Indonesia.

Bukan karena kebijakan domestik Iran, melainkan karena satu kalimat yang terasa seperti vonis sejarah.

Dalam pesan menyambut musim Ibadah Haji, ia menyebut Israel sedang mendekati “hari-hari terakhirnya”.

Kalimat itu menyulut rasa ingin tahu, kecemasan, dan debat.

Di era perang yang bergerak cepat, kata-kata pemimpin sering dibaca sebagai isyarat.

Apalagi ketika kata-kata itu menyentuh dua simpul emosi besar.

Agama, dan perang.

-000-

Pesan itu dikutip dari media Iran ISNA pada Selasa, 26 Mei 2026.

Mojtaba menggambarkan Israel sebagai “tumor kanker berbahaya” yang “tidak akan bertahan lama”.

Ia menyebut “rezim Zionis” sedang goyah, dan memasuki tahap akhir keberadaannya.

Ia merujuk pada “kata-kata tegas dan visioner” pemimpin Iran yang gugur sepuluh tahun lalu.

Menurutnya, Israel tidak akan bertahan hingga 25 tahun setelah tanggal tersebut.

-000-

Mojtaba juga menegaskan Iran membuat Israel “tak berdaya” di bawah “serangan dahsyatnya”.

Ia menyebutnya terjadi dalam “perang paksaan kedua”.

Ia menyebut dampaknya sebagai “tamparan keras” bagi Amerika Serikat.

Di bagian lain, ia mengatakan “masa depan adalah milik umat Islam dan peradaban Islam baru”.

-000-

Tak berhenti pada Israel, ia mengarahkan sorotan ke Teluk.

Ia mengatakan kekuatan-kekuatan Teluk tidak lagi menjadi perisai bagi pangkalan militer AS.

Washington, katanya, tidak akan memiliki “tempat berlindung yang aman” di kawasan.

Pernyataan itu disampaikan melalui saluran Telegram, saat Teheran dan Washington membahas kerangka mengakhiri perang tiga bulan.

Al Jazeera melaporkan kutipan itu pada Selasa.

-000-

Ia menyebut ini sebagai argumen utama Iran sepanjang perang.

Negara-negara regional, menurutnya, harus mengakhiri kehadiran AS.

Ia juga berbicara tentang “kemenangan poros perlawanan”, termasuk Lebanon.

Ia menyatakan pasukan proksi Iran memberi pelajaran kepada Amerika dan “entitas Zionis”.

-000-

Di ujung pesannya, Mojtaba menyerukan persahabatan dan kerja sama negara-negara Islam.

Ia mengajak mereka berbagi kepentingan bersama untuk membentuk tatanan baru kawasan dan dunia.

Pernyataan yang terdengar seperti ajakan diplomasi, namun dibingkai oleh retorika konfrontasi.

-000-

Konteks kepemimpinan membuat pesan itu semakin berat.

Mojtaba disebut mengambil alih posisi Pemimpin Tertinggi Iran pada Maret.

Itu terjadi setelah Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan udara AS-Israel pada akhir Februari.

Peralihan ini memberi setiap kalimatnya bobot baru.

-000-

Mengapa Ini Menjadi Tren di Indonesia

Ada setidaknya tiga alasan mengapa isu ini meledak di ruang publik Indonesia.

Alasan pertama adalah momentum Haji.

Pesan politik yang menumpang pada musim ibadah mudah menyentuh jutaan orang.

Haji adalah simbol persatuan, tetapi juga sering menjadi panggung bahasa solidaritas.

Ketika konflik disandingkan dengan Haji, emosi kolektif cepat menyala.

-000-

Alasan kedua adalah keterlibatan tiga aktor besar sekaligus.

Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

Nama-nama ini selalu memicu rasa genting karena terkait perang, energi, dan stabilitas global.

Indonesia, sebagai negara pengimpor energi dan ekonomi terbuka, sensitif pada guncangan kawasan.

-000-

Alasan ketiga adalah gaya bahasa yang ekstrem dan profetik.

Frasa “hari-hari terakhir” memberi kesan kepastian, bukan analisis.

Bahasa semacam ini mudah dipotong menjadi kutipan, lalu viral.

Di media sosial, kalimat yang terdengar final sering mengalahkan penjelasan yang nuansanya rumit.

-000-

Retorika sebagai Senjata: Mengapa Kata-kata Bisa Menjadi Peristiwa

Pernyataan pemimpin bukan hanya informasi.

Ia bisa menjadi tindakan.

Dalam studi hubungan internasional, ini dekat dengan gagasan “sekuritisasi”.

Isu dibingkai sebagai ancaman eksistensial agar tindakan luar biasa terasa sah.

-000-

Ketika Israel disebut “tumor kanker”, itu bukan sekadar metafora.

Metafora medis menyiratkan bahwa objek harus “diangkat”, bukan diajak berunding.

Bahasa seperti ini mengunci ruang kompromi.

Ia membentuk psikologi konflik, bukan hanya narasi.

-000-

Namun retorika juga punya fungsi domestik.

Seorang pemimpin baru butuh legitimasi.

Ia perlu menunjukkan kesinambungan, ketegasan, dan arah.

Rujukan pada pemimpin yang gugur sepuluh tahun lalu memperkuat garis warisan.

-000-

Isu Besar yang Menyentuh Kepentingan Indonesia

Bagi Indonesia, isu ini bukan sekadar jauh di Timur Tengah.

Ia bersentuhan dengan tiga isu besar yang nyata.

Pertama, stabilitas energi dan perdagangan.

Ketegangan di Teluk mengingatkan dunia pada rapuhnya jalur pasok.

-000-

Kedua, posisi Indonesia dalam diplomasi dunia Islam.

Indonesia kerap dipandang sebagai jangkar moderasi.

Ketika retorika perang menguat, tekanan publik sering meminta sikap tegas.

Tantangannya adalah menjaga empati tanpa kehilangan kehati-hatian.

-000-

Ketiga, kesehatan ruang publik demokratis.

Konflik luar negeri sering masuk sebagai bahan polarisasi domestik.

Di titik ini, literasi informasi menjadi urusan kebangsaan.

Kalimat yang viral bisa mengubah persepsi, bahkan tanpa data tambahan.

-000-

Riset yang Membantu Membaca Fenomena Ini

Riset komunikasi politik menunjukkan emosi adalah mesin penyebaran.

Konten yang memicu marah dan takut cenderung lebih cepat dibagikan.

Itu menjelaskan mengapa kutipan keras lebih mudah menembus linimasa.

Di sini, tren bukan hanya soal kepentingan, tetapi juga desain perhatian.

-000-

Riset konflik juga menekankan peran “framing” dan dehumanisasi.

Ketika lawan diperlakukan sebagai penyakit, perang terasa seperti terapi.

Bahaya utamanya adalah normalisasi kekerasan.

Bahasa membentuk batas moral, lalu batas itu bergeser pelan-pelan.

-000-

Riset tentang eskalasi krisis menjelaskan peran sinyal.

Pernyataan keras bisa dimaksudkan sebagai pencegahan.

Namun ia bisa dibaca sebagai ancaman.

Dalam kondisi saling curiga, salah tafsir menjadi bahan bakar.

-000-

Rujukan di Luar Negeri: Ketika “Kiamat Politik” Menjadi Narasi

Sejarah internasional mengenal momen ketika pemimpin memakai bahasa akhir zaman.

Di Perang Dingin, retorika kehancuran total sering muncul dalam pidato publik.

Tujuannya mengeraskan posisi tawar, sekaligus mengonsolidasikan kubu.

Namun dampaknya adalah spiral ketakutan.

-000-

Dalam banyak krisis, kata-kata mendahului tindakan.

Retorika yang menutup pintu kompromi membuat diplomasi lebih mahal.

Setiap langkah mundur terlihat sebagai kelemahan.

Di titik itu, perdamaian menjadi kalah pamor dibanding ketegasan.

-000-

Rujukan lain adalah pola “poros” dan “blok” dalam konflik global.

Ketika aktor menyebut “tatanan baru”, publik mengingat pembelahan dunia.

Dalam sejarah, narasi tatanan baru kerap lahir dari perang, bukan musyawarah.

Itu yang membuat banyak orang gelisah.

-000-

Membaca Pesan Haji sebagai Simbol

Haji adalah perjalanan spiritual, tetapi juga peristiwa sosial terbesar umat Islam.

Pesan yang disampaikan pada musim ini punya resonansi simbolik.

Ia menempel pada gagasan persaudaraan, luka kolektif, dan harapan.

Karena itu, satu pernyataan dapat terasa seperti seruan lintas batas.

-000-

Namun simbol selalu berisiko diperebutkan.

Di satu sisi, ia menguatkan solidaritas.

Di sisi lain, ia bisa dipakai untuk membenarkan logika permusuhan permanen.

Di sinilah publik perlu jeda.

Jeda untuk membedakan empati dari amarah yang diarahkan.

-000-

Rekomendasi: Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi

Pertama, perlakukan pernyataan ini sebagai sinyal politik, bukan kepastian sejarah.

Kalimat “hari-hari terakhir” adalah klaim.

Ia perlu dibaca bersama konteks perang, diplomasi, dan kepentingan.

Masyarakat berhak bertanya, tetapi juga wajib menahan kesimpulan instan.

-000-

Kedua, jaga ruang publik dari simplifikasi dan ujaran kebencian.

Perdebatan boleh keras, tetapi tidak boleh menghilangkan kemanusiaan.

Bahasa yang merendahkan kelompok lain mudah menular.

Sekali menular, ia merusak cara kita memandang sesama warga di dalam negeri.

-000-

Ketiga, dorong literasi berita dan konteks.

Bedakan kutipan, laporan, dan interpretasi.

Periksa tanggal, medium penyampaian, serta kepentingan yang mungkin menyertainya.

Ketika konflik jadi konten, kehati-hatian menjadi bentuk tanggung jawab.

-000-

Keempat, bagi pembuat kebijakan, utamakan kepentingan nasional.

Perhatikan dampak pada ekonomi, energi, dan keselamatan WNI.

Indonesia dapat menyuarakan prinsip kemanusiaan dan perdamaian.

Namun langkahnya perlu presisi, tidak terpancing gelombang viral.

-000-

Kelima, bagi tokoh agama dan pendidik, kuatkan pesan etika.

Musim Haji mengajarkan disiplin diri dan kesabaran.

Nilai itu relevan saat dunia dipenuhi provokasi.

Menahan diri bukan berarti diam.

Menahan diri berarti memilih cara yang tidak memperluas luka.

-000-

Menutup dengan Kontemplasi

Tren di mesin pencari sering dianggap remeh.

Padahal ia adalah termometer kecemasan dan harapan.

Ketika publik mencari tentang perang, sebenarnya ia mencari kepastian.

Sayangnya, kepastian jarang tersedia.

-000-

Pernyataan Mojtaba Khamenei menegaskan satu hal.

Di zaman ini, kata-kata pemimpin bisa menggetarkan pasar, memanaskan emosi, dan mengubah peta persepsi.

Karena itu, tugas kita bukan hanya mengikuti berita.

Tugas kita adalah menjaga akal sehat tetap hidup.

-000-

Di tengah hiruk-pikuk, Indonesia membutuhkan ketenangan yang berprinsip.

Empati pada penderitaan manusia, kewaspadaan pada eskalasi, dan kesetiaan pada perdamaian.

Kita boleh marah pada ketidakadilan.

Namun kita tidak boleh kehilangan kompas moral.

-000-

Dan pada akhirnya, mungkin inilah pelajaran paling sulit.

Bahwa masa depan tidak ditentukan oleh siapa yang paling keras bersuara.

Melainkan oleh siapa yang paling mampu menjaga martabat manusia saat dunia ingin merobeknya.

-000-

“Di atas segala kemenangan, ada kemenangan yang lebih sunyi: menang atas diri sendiri.”