BERITA TERKINI
Penutupan Selat Hormuz Angkat Indeks Harga Pangan Global ke Level Tertinggi

Penutupan Selat Hormuz Angkat Indeks Harga Pangan Global ke Level Tertinggi

Indeks harga komoditas pangan dunia yang dirilis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Jumat, 8 Mei 2026, menunjukkan kenaikan 1,6% sepanjang April 2026. Kenaikan ini didorong oleh melambungnya harga minyak nabati, daging, serta serealia.

Menurut laporan yang dikutip dari Reuters, secara tahunan indeks tersebut tercatat 2,5% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini terjadi di tengah gangguan pasokan yang dikaitkan dengan penutupan Selat Hormuz yang telah berlangsung selama tiga bulan.

Blokade di jalur laut strategis tersebut dinilai menghambat distribusi input pertanian penting, termasuk solar dan pupuk. Dampaknya mulai terasa pada sejumlah komoditas, terutama yang sensitif terhadap biaya energi dan logistik.

Sektor minyak nabati tercatat sebagai yang paling terdampak, dengan lonjakan 5,9%. Kenaikan harga energi disebut mendorong pergeseran permintaan ke arah biofuel, sehingga menambah tekanan pada pasar minyak nabati.

Kepala Ekonom Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Máximo Torero, menjelaskan bahwa tekanan di pasar minyak nabati semakin berat karena keterkaitannya dengan sektor energi global yang sedang tidak stabil.

Di sektor lain, indeks harga daging mencetak rekor tertinggi baru. Sementara itu, harga serealia terus naik seiring kekhawatiran cuaca dan proyeksi penurunan luas tanam gandum pada 2026.

Sejumlah petani di pusat produksi Eropa, termasuk Prancis dan Rumania, dilaporkan mulai mengurangi intensitas penanaman komoditas yang sangat bergantung pada pupuk dan solar. Langkah ini dilakukan untuk menekan biaya input yang meningkat sejak perang pecah pada Februari lalu.

Meski kenaikan saat ini baru terlihat pada level komoditas mentah di tingkat petani, para ahli memperingatkan adanya jeda waktu sebelum dampak inflasi tersebut benar-benar terasa pada belanja konsumen ritel.

Tren kenaikan selama tiga bulan berturut-turut menjadi sinyal peringatan bagi pasar global, bahkan ketika Amerika Serikat dan Iran disebut tengah mempertimbangkan kesepakatan damai untuk membuka kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz.